Elegiana #3

Lanjutan

Setelah satu jam lamanya menunggu kedatangan rombongan Erik beserta rekan-rekannya dari Balaikota, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit dengan membawa beraneka ragam buah-buahan dan kue basah. Keluarga Gee menyambut mereka begitu antusias dan sangat senang. Melihat kondisi Gee yang terbaring dengan selang infus di hidung dan tangannya membuat teman-temannya merasa prihatin. Siapa yang tahu bahwa musibah kan datang meski kita sudah berusaha menjaga diri sebaik mungkin? Siapa pula yang tahu menit kemudian tentang maut yang mungkin saja tiba.
Satu persatu dari mereka mendekati Gee dan berbicara pada Gee, mereka tak bisa menahan sedih melihat kondisi Gee yang sangat memprihatinkan ini. Mereka pun banyak mendo'akan keselamatan Gee, mendo'akan kesehatan Gee. Semoga Gee cepat pulih dan sadarkan diri. Beraktifitas seperti biasanya, ceria seperti sebelum-sebelumnya.
Anita yang melihat Gee pun merasa tak kuasa menahan pilu. Air matanya bercucuran membasahi lesung pipinya.
"Teh Gia, cepet sembuh Teh. Nita yakin Teh Gia kuat, Teh Gia bisa melalui semuanya. Semangat, Teh. Kita semua nunggu Teteh. Jangan tinggalin Nita." Ucapnya menahan sedan.
Tak ada respon apapun dari Giana, ia hanya tertiidur. Begitu tenang, pulas.
...
Gee terus mengikuti kemana sosok itu membawanya. Suasana masih berupa panorama malam dengan banyaknya cahaya berkelip dari kunang-kunang yang bertebaran di sekelilingnya.
Tak lama kemdian, Gee melihat rupanya sendiri. Namun terlihat berbeda dengan dirinya. Dihadapannya, Gee terlihat kusam, lebam, penuh luka, sangat menyedihkan. Kurus, seperti tak terurus. Sementara dirinya tidak, ia masih terlihat sehat, segar, baik-baik saja tanpa kurang sedikitpun.
Sosok itu berkata, "Lihatlah dirimu!" Menunduk sedih. Senyumnya hilang. Hanya isyarat menahan pilu.
"Kalau memang dia itu adalah aku, lantas siapa aku?" Giana bertanya penuh rasa penasaran.
"Itulah kamu yang lain! Baiklah, kan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Dihadapannya, terlihat sosok yang muram, sedih, begitu tak bahagia. "Dialah yang selalu menemanimu, di sisimu yang lain. Namun berbeda denganku, karena aku adalah catatan segala kebaikanmu. Aku selalu tersenyum sedangkan ia selalu menangis. Maka, itulah kamu. Berbeda dengan kamu yang bersamanya."
"Hah?" Gee tak mengerti. Apa maksudnya semua ini.
"Lihatlah, siapa yang tidak akan sedih melihat kondisimu seperti itu. Sangat buruk. Itulah kamu dengan segala catatan keburukanmu."
Gee menerawang mengingat-ingat sesuatu.
"Belum sampaikah kepadamu suatu berita tentang perjalanan yang begitu panjang?"
Gee terdiam. Tak banyak bicara. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Giana, rekanku selalu memohon kepadaku agar aku lebih banyak mencatat amal kebaikanmu, sungguh ia tak tega melihat kamu tersiksa terus menerus. Ia pun selalu meminta kepada Allah agar kamu diselamatkan. Agar kamu banyak-banyak mengingat Allah."
"Allah?" Gee bertanya pelan. Seperti mengingat sesuatu.
"Ya, tidakkah kau mengenali asma-Nya?"
...
Waktu jam besuk telah habis. Maka seluruh keluarga pasien yang berada di dalam ruangan harus segera meninggalkan pasien. Hanya boleh satu orang yang tinggal untuk menjaganya.
"Ma, mama pulang aja. Biar Radit yang jaga Giana. Mama harus istirahat."
"Tapi, apa gak ngerepotin?"
"Sama sekali nggak."
"Mas Radit kalau butuh bantuan telepon aku aja." Erik menambahkan. Radit mengangguk mengiyakan.
Tak lama, dokter pun datang menemui Giana dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana dok?"
"Giana harus dioperasi karena kepalanya yang terbentur cukup keras, tempurung kepalanya sedikit retak. Maka harus segera ditindak lanjuti."
"Lakukan dok. Berikan yang terbaik bagi Giana."
"Tapi kondisi Giana harus benar-benar pulih dulu, baru bisa dijalankan. Dan untuk biaya butuh sekitar tunai seratus juta rupiah."
"Innalillahi, astaghfirullah."
"Tunggu Giana sadar dari komanya, maka operasi akan kami jalankan."
Mas Radit yang mendengar kenyataan pahit itu mendadak lemas tak bergairah. Lelucon apa ini? Benaknya dipenuhi dengan rentetan keluh kesah. Menatap Gee yang tertidur lamat-lamat, tak kuasa menahan pilu. Cairan bening itu seketika turun membasahi pergelangan tangan Gee.
"Mas Radit mohon, sadarlah Gee. Kembalilah." Radit menutupi kedua tangannya, memegang erat kepalanya. Ingin sekali berteriak mengapa musibah menyakitkan ini harus menimpa gadis sebaik dan sepolos Gee.
"Yaa Allaah, betapa menyakitkannya peristiwa ini untukku. Gee, Mas Radit mohon cepatlah sadar. Bangunlah Gee, bangun" air matanya terus bercucuran.
...
Terdengar suara tangis dari seseorang.
"Siapa yang menangis?" Giana bertanya. Matanya mengitari sekitar mencari suara tangis itu.
"Itulah suara tangisan seseorang yang begitu dekat denganmu dari dunia yang lain." Jawab sosok itu.
"Mengapa ia menangis? Lalu dimana dia berada?"
"Di dunia yang lain." Jawabnya sekali lagi.
"Apakah aku sudah mati?" Kali ini Giana teringat akan kematian.
"Baiklah, ternyata kamu sudah mengingat sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku sebutkan." Ia tersenyum tipis kali ini.
"Jadi, aku sudah mati? Apakah ini yang dimaksud dengan alam barzakh?"
"Bukan. Ini hanya sekedar ilusi, mimpi."
"Hah?"
"Kamu belum mati, Giana. Kamu hanya sedang tertidur pulas."
"Lalu, dimana ragaku?"
"Di sana, di dunia yang lain."
"Kenapa aku tak bisa pergi kesana? Dan bertemu dengan seseorang yang sedang menangis itu?"
"Ikut aku! Kan kuberitahu kamu sesuatu yang lain. Masih banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."
"Kemana?"
Tanpa menjawabnya, Gee terpaksa harus mengikuti kemana sosok itu membawanya pergi.
...
Mas Radit yang sedari tadi menggenggam erat jari jemari.Gee, melihat jemari Gee bergerak yang hanya dalam hitungan detik.
"Gee?", Radit begitu tergesa menyentuh pipi Gee. "Giana? Mas Radit yakin Giana pasti dengar. Sadarlah Gee, ayo kita bikin project bareng lagi. Sembuhlah Gee, Mas Radit mohon." Ucapnya getir.
Percumalah, Gee masih tetap tertidur. Benar-benar detik yang membawa luka.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegiana #2

Lanjutan

Melihat Gee yang tersenyum tipis membuat mama Gee yang menemani Gee heran. Apa yang sedang Gee lakukan di sana? Bukankah dokter mengatakan bahwa Gee mengalami koma? Bagaimana bisa Gee tersenyum senang seperti itu sedangkan mamanya begitu khawatir melihat Gee begini.

Terdengar suara langkah kaki yang terburu menuju bibir pintu. Terbukalah pintu tersebut. Lalu terlihat lelaki bertubuh kurus layaknya tentara, mengenakan kemeja berwarna hitam. Memasang wajah yang begitu panik, sedih, resah, marah, kesal, sesal, semua.
"Ma, Giana kenapa sih kok bisa kayak gini?"
"Menurut saksi, kejadiannya emang sedikit aneh. Giana belum sempet nyebrang, tapi ada kecelakaan motor dan mobil dari arah kiri. Gatau kenapa motornya terpental jauh, jadi kayak yang lepas aja dari si pengendaranya. Roda depan motornya kena kaki Giana, lalu terseretlah Giana yang akhirnya terbentur mobil yang sedang melaju."
"Astaghfirullah, tapi kepalanya gak kenapa-kenapa kan ya?"
"Kepalanya terbentur cukup keras. Mengakibatkan banyak darah yang keluar. Dan Giana butuh pendonor sekarang."
"Astaghfirullah..." Mas Radit semakin dirundung cemas.
"Nak, Radit. Sama Giana masih?"
"Masih apa maksudnya?"
"Hubungan?"
"Oh, sebenernya dua hari yang lalu lagi ada sedikit masalah. Cuma salah paham aja sih sebenernya. Tapi gatau kenapa Giana tiba-tiba minta break. Katanya sih gak mau ngerepotin. Padahal saya gak ngerasa repot sama sekali."
"Mm, pantes aja dari kemarin Giana murung. Ditanya mama gak mau jawab, emang dia gak pernah banyak cerita. Cuma buku-bukunya aja yang banyak menuhin lemari."
"Iya, Giana emang sensitif dan apa-apa tu gak bisa jujur. Dia sering salah paham kalau saya bilang ini itu suka mikirnya kalau saya tu marah apa gimana. Padahal nggak sama sekali. Tapi tiap kali ditanya gimana, kenapa, atau apa yang dipengen dia selalu bilang gak apa-apa."
"Nih, hp Giana. Tadi sempet gak nyala, tapi lama-lama bisa nyala juga. Ada curhatan di sini. Coba lihat sama Radit."
Radit pun meraih ponsel milik Giana dari tangan Mama Giana. Dilihatlah layar ponsel Giana. Disana terlihat wallpapper bergambar Giana sedang memegang kucing kesayangannya.
"Dimana curhatannya?"
"Nih" ditunjukilah sebuah catatan khusus milik Giana oleh mamanya.
Tertulis begini di dalamnya;
"Maafin Gee ya Mas Radit. Gee ngerasa belum bisa jadi pasangan, partner, teman, atau segalanya yang baik-baik buat Mas Radit. Mas Radit baik sama Gee. Tapi Gee yang seringkali gak baik sama Mas Radit. Gee sering bikin Mas Radit kesel, pusing sama kelakuan Gee yang kayak gini. Mas Radit, kalau emang kita berjodoh. Allah pasti satukan kita ya? Gee gak mau bikin emosi Mas Radit terkuras hanya karena Gee. Gee ngerepotin banget ya, Mas Radit? Maafin Gee, ya. Gee gak mau lama-lama jauh, Gee pengen banget jadi partner terbaik buat Mas Radit. Tapi Gee emang harus banyak tafakur diri lagi. Gee emang masih kayak anak kecil ya. Nyebelin. Yang perlu Mas Radit tau, meskipun Gee minta break. Mas Radit gak akan pernah bisa terganti. Kecuali Allah yang memaksa. Terpaksa, Gee harus. Giana sayang, Mas."

Radit menunduk. Merenung. Banyak berpikir. Menyesal kenapa kondisi Giana saat ini harus terbaring tak sadarkan diri. Menanti detik-detik rahmat dari Allah, berharap Giana tersadar dari tidur lelapnya. Banyak sekali yang ingin Radit ungkapkan.
...
Selesai sudah acara seminar kepenulisan yang dilaksanakan di Balai Kota Bandung tersebut selama kurang lebih dua jam. Acaranya alhamdulillah berjalan dengan baik berkat rahmat Tuhan. Kabar lainnya, ada beberapa peserta yang berniat untuk ikut menjenguk Giana ke rumah sakit bersama dengan Laras, Erik dan Septi sore harinya.
"Teh Laras, gimana kabar terbaru dari Teh Gia?" Tanya Anita, seorang remaja yang berusia belasan tahun, dengar-dengar Anita ini memang dekat dengan Gee meskipun hanya dari media sosial.
"Loh, Nita kenal sama Giana?" Sahut Laras mendelik penuh kejut.
"Iya, Teh Gia udah kayak kakak buat aku. Teh Gia sering jadi motivator aku, Teh." Jawab Anita antusias.
"Hoo, iya. Giana emang humble orangnya. Dia seneng dengerin cerita siapa aja, seneng kasih motivasi sama orang lain. Tapi dia sendiri tertutup orangnya." Timbal.Laras sedikit mengungkapkan kebenaran tentang Giana.
"Teh Gia sering ceritain tentang dia dan sedikit kehidupannya buat kasih gambaran ke aku, kalau yang mengalami kejadian menyakitkan dalam hidup bukan cuma aku aja, tapi dia juga. Gitu, Teh."
"Iya, Gia memang seperti itu. O iya, tadi nanyain.kabar Gia ya. Gia belum sadarkan diri sekarang. Tadi Mas Radit baru ngabarin."
"Kasihan Teh Gia. Padahal dia orangnya baik."
"Gak ada yang salah sama takdir. Allah tahu yang terbaik. Dan segalanya paeti mengandung hikmah." Laras tersenyum penuh arti.
...
"Oh, jadi kalian lagi jalan ke sini? Berapa orang yang ikut?" Tanya Mas Radit melalui ponsel.
"Cuma 8 orang lah total."
"Septi, ikut?"
"Iya, dia ikut juga."
"Oke, saya tunggu kehadirannya."


Tak lama kemudian Giana terlihat sedang menangis ketika Mas Radit kembali menemuinya setelah selesai berbicara dengan Erik melalui telfon. Mas Radit pun mendekat ke telinga Giana, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Gee, ni Mas Radit. Cepet sembuh, Mas kangen pengen becandain kamu. Mas ada di sini, cepatlah bangun. Jangan lama-lama tidur." Berhenti sejenak. "Giana harus kuat, harus semangat buat jalani hari ke depannya." Lanjutnya.
...
Gee melangkah mendekat kepada cahaya yang semakin benderang itu. Setelah semakin dekat, terdengarlah suara tangis yang saling berlomba mengaduh menjerit-jerit. Entah dimana semua orang itu berada, yang terlihat hanyalah seakan mentari yang jaraknya begitu dekat. Panas, menyala-nyala. Jika saja Gee melangkah lebih dekat lagi, Gee akan terbakar hidup-hidup hanya karena melihat sinarnya saja, saking panasnya.


Cahaya apa itu?
Mengapa menyengat sekali?


Selang beberapa detik, Gee seakan melihat cuplikan layar lebar. Melihat beberapa rekannya saling seret menyeret, yang satu ingin ke kanan, yang satu lagi menyeret ingin ke kiri. Keduanya menangis menjerit-jerit. Mengadu pilu.


Apa itu? Mengapa seperti itu? Aku dimana? Lalu apa semua ini? Tempat apa ini? Aku tak mengingat apapun.
Apa yang terjadi?


Gee semakin bingung.
Cuplikan itu secara otomatis berubah, kali ini Gee melihat banyaknya sekumpulan semut berjalan mengitarinya. Seakan-akan ikut merasakan. Gee melihat ke sekililingnya, tak ada satupun semut-semut itu.
Semakin dekat jarak mereka dengan Gee, semakin jelaslah bahwa semut-semut itu begitu gaduh berkata-kata. Namun apa yang dikatakannya? Rasa penasaran menggumpal dalam benak Gee.
Cuplikan itu berubah lagi, kali ini Gee serasa ikut masuk ke dalam cuplikannya. Suasana berubah, entah dimana. Yang terlihat hanya kunang-kunang yang beterbangan di malam hari. Tak ada pelangi, tak ada melodi, tak ada gerimis. Semua hening, senyap, sepi, menyendiri.
Tetiba saja ada sosok mengenakan pakaian serba putih. Ia mendekat selangkah demi selangkah berjalan menuju Gee.
Gee melirik tajam penuh kewaspadaan.
Sesampainya sosok itu, ia tersenyum penuh makna. Gee tak mengerti.
"Elegiana Naura Zahra" sosok itu menyebut nama lengkap Giana.
"Siapa?" Giana bertanya gugup.
"Tak perlu takut, akulah yang senantiasa mendampingimu kemanapun kamu pergi."
"Aku tak ingat, aku tak mengenalmu."
Sosok itu tersenyum lagi begitu teduh.
"Masih banyak hal yang ingin kuperlihatkan kepadamu, Elegiana."
"Seperti tadi?"
Sosok itu mengangguk pelan tanpa hilangkan senyum pada wajahnya.
"Kau ingat sesuatu mengenai sebab mengapa kamu berada di sini?"
Kali ini Gee menggeleng tak tahu apapun. Gee sama sekali tak mengingat semuanya.
"Ikutlah bersamaku, akan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Gee tanpa ragu mengikuti kemana sosok itu membawanya.
...
Gee masih tak sadarkan diri. Tetapi air matanya berhenti menetes. Mas Radit menggenggam jari jemari Gee. Berharap Gee dapat merasakan sentuhan darinya.
Entah mengapa waktu seakan berjalan begitu lambat ketika berada di dalam kondisi menyakitkan begini.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegiana #1

Bagi Giana, waktu selalu pagi. Karena setiap pagi, harapan baru bermunculan. Juga merupakan perbaikan gizi bagi jiwa, siapa tahu ada rasa yang lebih manis daripada kemarin yang bisa dicicipi oleh hati.

Tepat pukul tujuh pagi, dimana burung-burung mulai sibuk berkicau, kucing dan anjing yang bermain petak umpet saling berkejaran kesana kemari. Juga sepasang ayam yang saling bersahutan dengan kokokkannya.
Melewati rumah-rumah warga, saling bertegur sapa, menebarkan senyum. Indah sekali.
Selang beberapa rumah, terdengar ribut-ribut di sebrang jalan raya sana. Tak terhitung beberapa polisi mengenakan rompi hijau sedang melakukan razia dari satu.motor ke motor yang lain. Untungnya, Gee selalu menggunakan kendaraan umum jika akan bepergian kemana saja. Kali ini, Gee akan menghadiri acara seminar kepenulisan di Balai Kota, Bandung.
Ketika akan menyebrangi jalan, terdengar suara klakson motor menghampiri Gee.
"Hei!" Sahut seseorang dibalik helm kyt hitam pengendara motor itu. Membuat jantung Gee berdegup kencang tak beraturan.
"Siapa?" Batinnya sembari menoleh ke belakang.
Motor itupun berhenti di samping kiri Gee. Terlihatlah wajah si pemilik motor itu saat ia membuka helmnya.
"Ooh, kamu." Gee segera menundukkan kepalanya setelah tahu siapa wajah dibalik helm kyt itu.
"Mau kemana?" Tanya seseorang itu.
"Ke sana." Terlihat dari bola mata Gee, bahwa Gee memang tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang itu.
"Mau di anter?" Katanya lagi. Namun Gee hanya membalas dengan dua kali gelengan kepala.
"Yoo, aku duluan ya!" Lelaki itu pun segera mengenakan helmnya kembali dan menancap gas lalu pergi dalam hitungan detik.
"Bismillah" Gee pun melangkahkan kaki, melirik ke kiri dan kanan. Memastikan tak ada kendaraan yang sedang melaju kencang. Entah ada angin apa yang membuat mata Gee berkedip lama, lalu tiba-tiba saja terdengar suara cekitan motor, dan langitpun berubah menjadi gelap. Ada sedikit rasa ngilu, perih dan tetiba semuanya tak terasa lagi. Seakan semua hilang. Pagi Giana yang cerah itu seketika berubah menjadi malam. Berwarna biru lebam.
...
Sudah melewati waktu yang ditetapkan untuk memulai acara seminar tersebut. Namun sang MC terbaik belum tiba juga. Berulang kali para panitia yang bertanggung jawab penuh atas diadakannya acara seminar tersebut menghubungi rekannya yang ternyata tak bisa dihubungi.
"Kalian tau nomor Giana yang lain gak? Susah banget dihubungi nih nomernya." Ujar Mas Radit, yang bertanggung jawab penuh atas acara seminar tersebut.
"Sama, saya juga daritadi ngehubungin dia tapi panggilannya dialihkan mulu." Tukas Erik. Yang memiliki amanah serupa untuk mendampingi Giana sebagai MC di acara tersebut.
"Kemana ya? Coba tanya Laras." Mas Radit pun berjalan ke samping kiri mencari Laras. Laras, adalah teman dekat Gee. Tidak terlalu dekat, tapi memang kenal. Mereka satu sekolah ketika SMA, namun tidak satu kelas. Hanya satu ekstrakulikuler, Jurnalistik.
Tak bertemu dengan Laras, malah Laras pun terlihat buru-buru sekali turun dari lantai dua mencari-cari Mas Radit. Septi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, tetiba terganggu dengan suara sepatu milik Laras, karena memang berisik sekali. Septi mendelik penuh keheranan.
"Ras, lari-lari mulu. Awas jatuh!" Teriak Septi dari sofa dekat jendela.
"Teh, liat Mas Radit?" Ucap Laras cemas.
"Kenapa sih?" Septi semakin heran campur khawatir.
"Duh, gak ada waktu lagi. Bentar, teh." Belum selesai bicara, Laras pun berlari lagi mencari Mas Radit. Septi pun segera menyusul Laras, disusul Erik yang memang sudah penasaran melihat Laras yang begitu cemas dari kejauhan tadi.

Tepat di samping pintu masuk, dekat rangkaian bunga mawar biru plastik pesanan Gee. Mas Radit masih sibuk dengan ponselnya, berusaha mencari kabar dari Gee. Laras yang melihat Mas Radit dari lorong sebelum masuk ke tengah-tengah aula pun segera berlari mendekati Mas Radit.
"Mas Radit, aku cari-cari ih." Ucap Laras sedikit terengah.
"Ada kabar dari Giana?" Mas Radit kali ini benar-benar cemas. Disamping para peserta seminar sudah lumayan banyak, ditambah MC nya belum datang-datang juga. Apalagi ini menyangkut Giana. Bukan apa-apa, Mas Radit terbilang dekat secara batin dengan Gee.
"Aku baru dapet kabar dari mamanya Gee, Gee kecelakaan. Sekarang lagi di jalan menuju rumah sakit."
"Innalillahi, duh. Gimana ini ya." Terlihat kedua bola matanya kesana kemari mencari Erik, disisi lain ada sedikit cairan bening yang mulai membasahi kedua bola matanya. "Nah, Erik. Bantu saya ya. Acara ini harus tetep jalan, soalnya gak enak sama peserta yang udah datang. Sorry ya, kayaknya saya harus ke rumah sakit jenguk Giana." Erik memahami betul apa yang dirasakan oleh Mas Radit, begitupun dengan panitia lainnya yang ikut bertugas. "Ras, rumah sakit mana?" Tanya Mas Radit menahan sesak.
"Imannuel sih katanya." Tanpa banyak berpikir lagi, Mas Radit pun bergegas menuju aula dan menyambut para peserta beberapa menit. Setelah itu pamit karena Giana yang bertugas menjadi MC kecelakaan beberapa jam lalu. Para peserta pun ikut berempati saat mendengar berita tersebut. Malah ada yang mengusulkan lebih baik pergi bersama-sama menuju rumah sakit menjenguk Giana, meski harus mengorbankan seminar kepenulisan yang akan diadakan saat ini. Tetapi yang namanya komitmen harus tetap dipegang, Mas Radit tetap memilih Erik sebagai MC pengganti dan acara harus tetap dilaksanakan. Mas Radit pun segera bergegas ke rumah sakit.
...
Ada pelangi. Melengkung dengan indahnya. Entah kenapa pelangi itu sangat dekat dengan kepalaku. Mudah diraih. Tapi tetap saja tidak tergenggam. Seperti cahaya matahari. Hanya bayangan.
Ada melodi. Suara instrumental yang begitu aku suka. Diiringi dengan penari balet yang selalu aku kagumi. Entah mengapa suaranya begitu terkesan sampai ke hati.
Ada lelaki. Dengan hafalan qur'annya. Ah, iya. Itu dia Muhammad Thaha Al-Junayd. Oh, suaranya begitu indah sekali. Aku senang mendengarkannya. Hatiku serasa tentram.
Gerimis. Aku selalu suka dengan gerimis. Butirannya mampu melesapkan gersang pada jiwa.
Tunggu
Cahaya apa itu?
...
Giana tetiba tersenyum.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Just Me Myself And I

Rei, begitulah orang-orang memanggilku. Terkadang, Chaca. Sewaktu-waktu bisa juga menjadi Esha. Lengkapnya sih Reisha, emang sering ketuker sama Raisa istrinya Hamish Daud yang baru aja nikah tempo lalu. Untungnya aku gak pinter nyanyi, jadi selamatlah aku dari pertukaran ini.
Aku sama dengan yang lainnya, pernah ngalamin masa kecil. Reisha kecil tumbuh di Kota Cimahi, cuma sampai kelas 5 SD aja sih, selanjutnya pindah ke Kabupaten Bandung, sekitaran Soreang. Tinggallah di sana hingga kini. Rei kecil sampai sekarang orangnya tetep pendiem dan polos, lugu tapi karena punya wajah jutek jadi sering dikatain jutek dan sombong sama orang-orang yang belum kenal dekat--karena pendiamnya.
Sama seperti yang lainnya, ngalamin sekolah di TK, SD, SMP, SMK dan pernah juga kuliah. Tetapi, qodarullah kuliahnya nggak sampai tamat. Disanalah proses pendewasaan untuk Rei dimulai. Ketika Rei menginjak usia kepala 2, tepat di angka 20. Seakan-akan hidup terasa berat ketika dijalani.
Bukankah yang berkesan dalam hidup adalah mereka yang tak pernah sampai terlupakan? Selalu teringat? Kalau iya, biar kusampaikan pada semesta bahwa cerita yang paling berkesan dalam hidupku adalah disaat aku mengalami perih, pahit, dan sakitnya dalam perjalanan hidup ini.
Disaat aku benar-benar drop, down, entahlah. Seakan tak ada satupun makhluk Allah yang menemani selain hanya tumpukan kertas, selain hanya sajadah untuk menyembah Ia Yang Esa. Wallahi.. Ketika kontak teman-teman di HP bejibun banyaknya, ketika teman-teman di kontak BBM bejibun banyaknya, ketika akun teman-teman di FB yang beribu-ribu banyaknya tetapi hanya satu dan dua orang saja yang mampu mengingat dan bertanya tentang kabarku. Benarlah, teman yang tak kenal musim itu susah sekali didapatkannya.

Kalau ditanya, "Emang apa sih masalahnya sampai bisa drop?" Atau, "Kamu masih muda, kenapa harus banyak pikiran? Emang apa yang jadi pikirannya sampai bisa down kayak gitu?"
Jawabannya; Karena kurang bisa menikmati hidup. Ketika seseorang seperti aku banyak memendamnya. Banyak memikirkan kebahagiaan orang lain. Banyak nggak enakannya. Banyak malesnya. Banyak sensitifnya. Banyak merasakan hal yang gak perlu dirasain. Banyak hal yang dipikirkan dan seharusnya gak perlu dipikirin sama sekali. Ketika kenyamanan yang benar-benar kenyamanan itu sangat dibutuhkan olehku tetapi aku tidak mendapatkannya. Otomatis aku seperti halnya soda yang ketika dikocok dan diaduk terus menekan diri agar bisa melompat keluar menghindari semuanya. Akhirnya aku pun terpental keluar, menjauh dan memang terlempar jauh dari semuanya. Aku berjalan dan tinggal sendirian. Asing di tengah-tengah keterasingan. Dan dalam waktu yang cukup lama aku mengasingkan diri. Mulai merangkak dan menata hidup kembali.

Ya, bagi aku. Sepotong episode di dalam hidupku yang paling berkesan adalah ketika aku mengalami kegagalan. Gagal dalam menyelesaikan studi. Gagal membahagiakan orangtua di masa itu. Gagal menunjukkan rasa terimakasih kepada Tuhan di saat itu. Gagal dalam mempertahankan tanggung jawab di kala itu. Kegagalan demi kegagalan yang terus menerus aku rasakan.
Kepercayaan diri yang perlahan mulai mengendur semakin mengendur. Sampai aku berpikir, "Hidupku ini sudah seperti halnya sampah. Tak berguna." Kenapa bisa gitu? Karena gak ada hal yang bisa aku lakukan. Ketika semua orang berlalu lalang dengan semua rutinitas dan pekerjaannya. Diberikan tanggung jawab dan bisa memberikan kebahagiaan pada sesama berupa materi, atau yang lainnya dalam rangka berbagi. Lalu aku? Apa yang bisa aku lakukan selain hanya menulis, menulis dan menulis yang nyatanya tak menghasilkan apapun selain hanya membaca ratap demi ratapan yang dibuat oleh diri.
Nggak ada, gak ada satupun panggilan kerja dimana aku sudah menyebarkan surat lamaran kerja. Seakan hidupku ini memang tak berarti.
Tahukah kalian kesedihan apa yang paling menggerogoti hati dan jiwa? Ya, disaat kita hanya membiarkan detik yang berlalu tanpa ada karya apapun. Tanpa ada kebermanfaatan apapun. Mau melakukan ini dan itu susah, maa sya Allaah. Seperti hidup di dalam sangkar, atau tempurung. Sulit untuk beranjak dan bergerak. Terlebih karena terbayang oleh masalalu yang memalukan. Bagaimana bisa mempertahankan tanggung jawab? Begitulah.

Selama kurang lebih tiga tahun lamanya terdidik oleh rasa bersalah dan semacam introspeksi. Berbenah dan bersiaga untuk kembali bangkit lalu mengejar mimpi.
Alhamdulillah, masuk ke tahun ini aku merasa hidupku sudah ada perbaikan. Pertama, hidupku mulai tertata dengan benar. Kedua, apa yang kuharapkan akhirnya dapat terwujud. Yakni; mendapatkan pekerjaan yang alhamdulillah menghasilkan. Bisa menjadi bukti bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terus menerus dalam kesusahan. Lagipula, tak ada kesusahan dan kesulitan yang tak diundang oleh kelalaian diri. Anggaplah selama tiga tahun ke belakang itu merupakan punishment untuk aku. Biar aku bisa mikir, kalau ternyata hidup itu bukan hanya soal diri. Tapi juga soal sesama. Karena kita nggak hanya hidup sendiri, tapi bersama.

Ya.. setidaknya untuk saat ini aku bisa menebus kesalahan dan kelalaian serta kealfaanku yang lalu dengan cara seperti ini. Mengemban sebuah amanah, dan berupaya sebaik mungkin.
Dan kalian tahu apa rahasianya?
Aku juga gak pernah menduga sebelumnya kalau hidup aku ternyata bisa berubah juga.
Awalnya sih perbaiki hubungan diri sama Allah, dengan cara perbaiki sholat dan sering interaksi dengan Al-Qur'an. Karena disaat itulah rasa percaya kita kepada Allah muncul, yang menyebabkan kita akan lebih menghargai diri sendiri dan percaya akan kemampuan diri. Karena diri ini pun adalah ciptaan-Nya. Kalau bilang gak mampu, atau gak bisa, atau minder atau apapun yang lainnya. Sama aja kayak mengolok-olok Allah, apalagi kalau ngatain diri sampah dan gak guna. Padahal, gak ada satupun makhluk ciptaan Allah yang sia-sia, bahkan babi dan tikuspun ada manfaatnya. Apa? Menguji kita. Kalau kita bisa lulus ujian, ya dapat pahala. Manfaatnya untuk siapa? Kita. Dan, kalau gak ada tikus. Tukang lem tikus mungkin gak akan pernah ada.
Kalau kepercayaan kepada diri sudah muncul, maka mau bertindak apapun yang asalkan halal dan diperbolehkan tidak melanggar aturan yang semestinya, in syaa Allah semua akan dimudahkan. Intinya, "Bergerak".
Ya, itu. Allah akan menunjukkan jalannya ketika kita mau bergerak dan melangkah.

Demikianlah cerita tentangku dan sepotong episode masalalu yang begitu berkesan untukku. Mungkin di episode selanjutnya akan ada kenangan lagi yang buat aku gak bisa lupa. Married misalnya. Ehehehe.

Oke, terimakasih kepada kalian yang sudah dan mau membaca tulisan ini sampai akhir.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS