Lanjutan
Setelah satu jam lamanya menunggu kedatangan rombongan Erik beserta rekan-rekannya dari Balaikota, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit dengan membawa beraneka ragam buah-buahan dan kue basah. Keluarga Gee menyambut mereka begitu antusias dan sangat senang. Melihat kondisi Gee yang terbaring dengan selang infus di hidung dan tangannya membuat teman-temannya merasa prihatin. Siapa yang tahu bahwa musibah kan datang meski kita sudah berusaha menjaga diri sebaik mungkin? Siapa pula yang tahu menit kemudian tentang maut yang mungkin saja tiba.
Satu persatu dari mereka mendekati Gee dan berbicara pada Gee, mereka tak bisa menahan sedih melihat kondisi Gee yang sangat memprihatinkan ini. Mereka pun banyak mendo'akan keselamatan Gee, mendo'akan kesehatan Gee. Semoga Gee cepat pulih dan sadarkan diri. Beraktifitas seperti biasanya, ceria seperti sebelum-sebelumnya.
Anita yang melihat Gee pun merasa tak kuasa menahan pilu. Air matanya bercucuran membasahi lesung pipinya.
"Teh Gia, cepet sembuh Teh. Nita yakin Teh Gia kuat, Teh Gia bisa melalui semuanya. Semangat, Teh. Kita semua nunggu Teteh. Jangan tinggalin Nita." Ucapnya menahan sedan.
Tak ada respon apapun dari Giana, ia hanya tertiidur. Begitu tenang, pulas.
...
Gee terus mengikuti kemana sosok itu membawanya. Suasana masih berupa panorama malam dengan banyaknya cahaya berkelip dari kunang-kunang yang bertebaran di sekelilingnya.
Tak lama kemdian, Gee melihat rupanya sendiri. Namun terlihat berbeda dengan dirinya. Dihadapannya, Gee terlihat kusam, lebam, penuh luka, sangat menyedihkan. Kurus, seperti tak terurus. Sementara dirinya tidak, ia masih terlihat sehat, segar, baik-baik saja tanpa kurang sedikitpun.
Sosok itu berkata, "Lihatlah dirimu!" Menunduk sedih. Senyumnya hilang. Hanya isyarat menahan pilu.
"Kalau memang dia itu adalah aku, lantas siapa aku?" Giana bertanya penuh rasa penasaran.
"Itulah kamu yang lain! Baiklah, kan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Dihadapannya, terlihat sosok yang muram, sedih, begitu tak bahagia. "Dialah yang selalu menemanimu, di sisimu yang lain. Namun berbeda denganku, karena aku adalah catatan segala kebaikanmu. Aku selalu tersenyum sedangkan ia selalu menangis. Maka, itulah kamu. Berbeda dengan kamu yang bersamanya."
"Hah?" Gee tak mengerti. Apa maksudnya semua ini.
"Lihatlah, siapa yang tidak akan sedih melihat kondisimu seperti itu. Sangat buruk. Itulah kamu dengan segala catatan keburukanmu."
Gee menerawang mengingat-ingat sesuatu.
"Belum sampaikah kepadamu suatu berita tentang perjalanan yang begitu panjang?"
Gee terdiam. Tak banyak bicara. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Giana, rekanku selalu memohon kepadaku agar aku lebih banyak mencatat amal kebaikanmu, sungguh ia tak tega melihat kamu tersiksa terus menerus. Ia pun selalu meminta kepada Allah agar kamu diselamatkan. Agar kamu banyak-banyak mengingat Allah."
"Allah?" Gee bertanya pelan. Seperti mengingat sesuatu.
"Ya, tidakkah kau mengenali asma-Nya?"
...
Waktu jam besuk telah habis. Maka seluruh keluarga pasien yang berada di dalam ruangan harus segera meninggalkan pasien. Hanya boleh satu orang yang tinggal untuk menjaganya.
"Ma, mama pulang aja. Biar Radit yang jaga Giana. Mama harus istirahat."
"Tapi, apa gak ngerepotin?"
"Sama sekali nggak."
"Mas Radit kalau butuh bantuan telepon aku aja." Erik menambahkan. Radit mengangguk mengiyakan.
Tak lama, dokter pun datang menemui Giana dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana dok?"
"Giana harus dioperasi karena kepalanya yang terbentur cukup keras, tempurung kepalanya sedikit retak. Maka harus segera ditindak lanjuti."
"Lakukan dok. Berikan yang terbaik bagi Giana."
"Tapi kondisi Giana harus benar-benar pulih dulu, baru bisa dijalankan. Dan untuk biaya butuh sekitar tunai seratus juta rupiah."
"Innalillahi, astaghfirullah."
"Tunggu Giana sadar dari komanya, maka operasi akan kami jalankan."
Mas Radit yang mendengar kenyataan pahit itu mendadak lemas tak bergairah. Lelucon apa ini? Benaknya dipenuhi dengan rentetan keluh kesah. Menatap Gee yang tertidur lamat-lamat, tak kuasa menahan pilu. Cairan bening itu seketika turun membasahi pergelangan tangan Gee.
"Mas Radit mohon, sadarlah Gee. Kembalilah." Radit menutupi kedua tangannya, memegang erat kepalanya. Ingin sekali berteriak mengapa musibah menyakitkan ini harus menimpa gadis sebaik dan sepolos Gee.
"Yaa Allaah, betapa menyakitkannya peristiwa ini untukku. Gee, Mas Radit mohon cepatlah sadar. Bangunlah Gee, bangun" air matanya terus bercucuran.
...
Terdengar suara tangis dari seseorang.
"Siapa yang menangis?" Giana bertanya. Matanya mengitari sekitar mencari suara tangis itu.
"Itulah suara tangisan seseorang yang begitu dekat denganmu dari dunia yang lain." Jawab sosok itu.
"Mengapa ia menangis? Lalu dimana dia berada?"
"Di dunia yang lain." Jawabnya sekali lagi.
"Apakah aku sudah mati?" Kali ini Giana teringat akan kematian.
"Baiklah, ternyata kamu sudah mengingat sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku sebutkan." Ia tersenyum tipis kali ini.
"Jadi, aku sudah mati? Apakah ini yang dimaksud dengan alam barzakh?"
"Bukan. Ini hanya sekedar ilusi, mimpi."
"Hah?"
"Kamu belum mati, Giana. Kamu hanya sedang tertidur pulas."
"Lalu, dimana ragaku?"
"Di sana, di dunia yang lain."
"Kenapa aku tak bisa pergi kesana? Dan bertemu dengan seseorang yang sedang menangis itu?"
"Ikut aku! Kan kuberitahu kamu sesuatu yang lain. Masih banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."
"Kemana?"
Tanpa menjawabnya, Gee terpaksa harus mengikuti kemana sosok itu membawanya pergi.
...
Mas Radit yang sedari tadi menggenggam erat jari jemari.Gee, melihat jemari Gee bergerak yang hanya dalam hitungan detik.
"Gee?", Radit begitu tergesa menyentuh pipi Gee. "Giana? Mas Radit yakin Giana pasti dengar. Sadarlah Gee, ayo kita bikin project bareng lagi. Sembuhlah Gee, Mas Radit mohon." Ucapnya getir.
Percumalah, Gee masih tetap tertidur. Benar-benar detik yang membawa luka.
Bersambung






