Sendiri Menyepi

Sendiri menyepi.. 
Tenggelam dalam renungan.. 
Ada apa aku, 
Seakan diriku jauh dari ketenangan..

Terlalu jauh sudah aku melangkah
Aku terbuai di dalam kenikmatan yang perlahan menjebakku ke dalam kefanaan
Aku merasa semakin hari semakin hampa
Aku merasa hancur, ambruk, seakan tak memiliki lagi pondasi yang kokoh. 
Jangankan kokoh, pondasinya pun nyaris tak ada. 

Aku lagi-lagi menyia-nyiakannya
Kembali lagi menjadi insan yang bodoh
Lagi-lagi bodoh
Tetapi masih bersyukur karena ketika hatiku merindu, keheningan dalam malam yang gulita ini masih bisa kurasakan. 
Merasa takut dan gelisah jika selama ini hanya sia-sia saja aku menggunakan nafas yang telah diberikan-Nya. 

Bumi sedang tidak dalam kondisi baik
Kehidupan ini adalah milik-Nya
Semua yang terjadi tak terlepas dari Qodo dan Qodar-Nya
Setiap hari setiap detik aku semakin memahami bahwa akhir dari semua ini adalah memang kefanaan, tiada, binasa. 
Semua akan mengalami yang namanya kematian. 

Kenapa aku selalu mengulang-ulang perasaan yang sama? 
Bukankah sebaiknya usaikan saja
Bukankah sebenarnya aku sudah tahu obatnya
Lalu mengapa aku selalu saja bersikap seperti ini?
Apakah memang aku tak pernah bisa mencapai titik ridha di dalam hidupku? 
Apakah aku tidak diridhai-Nya dalam hal kebaikan? 
Tidak mungkin, kan? 
Tetapi, kenapa? 

Memang hanya aku yang tahu
Aku tak mungkin benar selalu
Aku adalah manusia yang dirancang untuk selalu salah dan melakukan perbaikan
Kalau aku tidak pernah melakukan kesalahan mungkin aku tak akan ditakdirkan hidup sebagai manusia melainkan malaikat yang hanya patuh dan taat. 

Tetapi jika selalu saja salah dan tak melakukan perbaikan, mungkin aku sudah dikategorikan sebagai antek iblis.

Bukankah memang begitulah sunatullohnya? 
Manusia melakukan kesalahan, kerusakan, tetapi Dia selalu menantikan air mata keinsyafan para hamba-Nya yang bersalah
Dan kali ini aku merasa sangat bersalah, sangat-sangat berdosa dan aku tengah merasakan rindu yang teramat hebat. 

Rindu menangis di hamparan sajadah mengadukan segala keluh kesahku kepada-Nya
Rindu menangis di atas lembaran-lembaran kertas di saat aku menuliskan semua keluh kesahku kepada-Nya
Rindu bermunajat di malam-malam yang paling sunyi kepada-Nya
Rindu menyebut-nyebut nama-Nya disaat apapun itu kondisinya
Rindu mentadabburi setiap pesan-pesan cinta dalam surah-Nya
Rindu menjalani semua perintah sunnahnya
Rindu akan semua hal tentang-Nya
Yang kemana-mana selalu mengagungkan asma-Nya kepada orang-orang agar selalu mengingat-Nya
Rindu kepada teman-temanku yang berada di dalam komunitas keagamaan
Itu semua membuat keadaan jiwaku stabil dan kuat

Sepertinya memang seharusnya aku membangun kembali semua itu
Seharusnya setiap detik, menit, helaan nafas ini aku tak pernah boleh lepas dari mengingat-Nya
Memang seharusnya begitu
Ya

Rabbana taqobbal minna innaka anta sami'uddu'a
Rabbana laatuzig quluubana ba'daidz hadaitana wa hablana miladunka rahmah innaka antal wahaab 
Rabbana dholamna anfusana wa ilamtaghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin

Aamiin Allahumma Robbal alaamiin.. 💕

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS