Bagi Giana, waktu selalu pagi. Karena setiap pagi, harapan baru bermunculan. Juga merupakan perbaikan gizi bagi jiwa, siapa tahu ada rasa yang lebih manis daripada kemarin yang bisa dicicipi oleh hati.
Tepat pukul tujuh pagi, dimana burung-burung mulai sibuk berkicau, kucing dan anjing yang bermain petak umpet saling berkejaran kesana kemari. Juga sepasang ayam yang saling bersahutan dengan kokokkannya.
Melewati rumah-rumah warga, saling bertegur sapa, menebarkan senyum. Indah sekali.
Selang beberapa rumah, terdengar ribut-ribut di sebrang jalan raya sana. Tak terhitung beberapa polisi mengenakan rompi hijau sedang melakukan razia dari satu.motor ke motor yang lain. Untungnya, Gee selalu menggunakan kendaraan umum jika akan bepergian kemana saja. Kali ini, Gee akan menghadiri acara seminar kepenulisan di Balai Kota, Bandung.
Ketika akan menyebrangi jalan, terdengar suara klakson motor menghampiri Gee.
"Hei!" Sahut seseorang dibalik helm kyt hitam pengendara motor itu. Membuat jantung Gee berdegup kencang tak beraturan.
"Siapa?" Batinnya sembari menoleh ke belakang.
Motor itupun berhenti di samping kiri Gee. Terlihatlah wajah si pemilik motor itu saat ia membuka helmnya.
"Ooh, kamu." Gee segera menundukkan kepalanya setelah tahu siapa wajah dibalik helm kyt itu.
"Mau kemana?" Tanya seseorang itu.
"Ke sana." Terlihat dari bola mata Gee, bahwa Gee memang tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang itu.
"Mau di anter?" Katanya lagi. Namun Gee hanya membalas dengan dua kali gelengan kepala.
"Yoo, aku duluan ya!" Lelaki itu pun segera mengenakan helmnya kembali dan menancap gas lalu pergi dalam hitungan detik.
"Bismillah" Gee pun melangkahkan kaki, melirik ke kiri dan kanan. Memastikan tak ada kendaraan yang sedang melaju kencang. Entah ada angin apa yang membuat mata Gee berkedip lama, lalu tiba-tiba saja terdengar suara cekitan motor, dan langitpun berubah menjadi gelap. Ada sedikit rasa ngilu, perih dan tetiba semuanya tak terasa lagi. Seakan semua hilang. Pagi Giana yang cerah itu seketika berubah menjadi malam. Berwarna biru lebam.
...
Sudah melewati waktu yang ditetapkan untuk memulai acara seminar tersebut. Namun sang MC terbaik belum tiba juga. Berulang kali para panitia yang bertanggung jawab penuh atas diadakannya acara seminar tersebut menghubungi rekannya yang ternyata tak bisa dihubungi.
"Kalian tau nomor Giana yang lain gak? Susah banget dihubungi nih nomernya." Ujar Mas Radit, yang bertanggung jawab penuh atas acara seminar tersebut.
"Sama, saya juga daritadi ngehubungin dia tapi panggilannya dialihkan mulu." Tukas Erik. Yang memiliki amanah serupa untuk mendampingi Giana sebagai MC di acara tersebut.
"Kemana ya? Coba tanya Laras." Mas Radit pun berjalan ke samping kiri mencari Laras. Laras, adalah teman dekat Gee. Tidak terlalu dekat, tapi memang kenal. Mereka satu sekolah ketika SMA, namun tidak satu kelas. Hanya satu ekstrakulikuler, Jurnalistik.
Tak bertemu dengan Laras, malah Laras pun terlihat buru-buru sekali turun dari lantai dua mencari-cari Mas Radit. Septi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, tetiba terganggu dengan suara sepatu milik Laras, karena memang berisik sekali. Septi mendelik penuh keheranan.
"Ras, lari-lari mulu. Awas jatuh!" Teriak Septi dari sofa dekat jendela.
"Teh, liat Mas Radit?" Ucap Laras cemas.
"Kenapa sih?" Septi semakin heran campur khawatir.
"Duh, gak ada waktu lagi. Bentar, teh." Belum selesai bicara, Laras pun berlari lagi mencari Mas Radit. Septi pun segera menyusul Laras, disusul Erik yang memang sudah penasaran melihat Laras yang begitu cemas dari kejauhan tadi.
Tepat di samping pintu masuk, dekat rangkaian bunga mawar biru plastik pesanan Gee. Mas Radit masih sibuk dengan ponselnya, berusaha mencari kabar dari Gee. Laras yang melihat Mas Radit dari lorong sebelum masuk ke tengah-tengah aula pun segera berlari mendekati Mas Radit.
"Mas Radit, aku cari-cari ih." Ucap Laras sedikit terengah.
"Ada kabar dari Giana?" Mas Radit kali ini benar-benar cemas. Disamping para peserta seminar sudah lumayan banyak, ditambah MC nya belum datang-datang juga. Apalagi ini menyangkut Giana. Bukan apa-apa, Mas Radit terbilang dekat secara batin dengan Gee.
"Aku baru dapet kabar dari mamanya Gee, Gee kecelakaan. Sekarang lagi di jalan menuju rumah sakit."
"Innalillahi, duh. Gimana ini ya." Terlihat kedua bola matanya kesana kemari mencari Erik, disisi lain ada sedikit cairan bening yang mulai membasahi kedua bola matanya. "Nah, Erik. Bantu saya ya. Acara ini harus tetep jalan, soalnya gak enak sama peserta yang udah datang. Sorry ya, kayaknya saya harus ke rumah sakit jenguk Giana." Erik memahami betul apa yang dirasakan oleh Mas Radit, begitupun dengan panitia lainnya yang ikut bertugas. "Ras, rumah sakit mana?" Tanya Mas Radit menahan sesak.
"Imannuel sih katanya." Tanpa banyak berpikir lagi, Mas Radit pun bergegas menuju aula dan menyambut para peserta beberapa menit. Setelah itu pamit karena Giana yang bertugas menjadi MC kecelakaan beberapa jam lalu. Para peserta pun ikut berempati saat mendengar berita tersebut. Malah ada yang mengusulkan lebih baik pergi bersama-sama menuju rumah sakit menjenguk Giana, meski harus mengorbankan seminar kepenulisan yang akan diadakan saat ini. Tetapi yang namanya komitmen harus tetap dipegang, Mas Radit tetap memilih Erik sebagai MC pengganti dan acara harus tetap dilaksanakan. Mas Radit pun segera bergegas ke rumah sakit.
...
Ada pelangi. Melengkung dengan indahnya. Entah kenapa pelangi itu sangat dekat dengan kepalaku. Mudah diraih. Tapi tetap saja tidak tergenggam. Seperti cahaya matahari. Hanya bayangan.
Ada melodi. Suara instrumental yang begitu aku suka. Diiringi dengan penari balet yang selalu aku kagumi. Entah mengapa suaranya begitu terkesan sampai ke hati.
Ada lelaki. Dengan hafalan qur'annya. Ah, iya. Itu dia Muhammad Thaha Al-Junayd. Oh, suaranya begitu indah sekali. Aku senang mendengarkannya. Hatiku serasa tentram.
Gerimis. Aku selalu suka dengan gerimis. Butirannya mampu melesapkan gersang pada jiwa.
Tunggu
Cahaya apa itu?
...
Giana tetiba tersenyum.
Bersambung
Tepat pukul tujuh pagi, dimana burung-burung mulai sibuk berkicau, kucing dan anjing yang bermain petak umpet saling berkejaran kesana kemari. Juga sepasang ayam yang saling bersahutan dengan kokokkannya.
Melewati rumah-rumah warga, saling bertegur sapa, menebarkan senyum. Indah sekali.
Selang beberapa rumah, terdengar ribut-ribut di sebrang jalan raya sana. Tak terhitung beberapa polisi mengenakan rompi hijau sedang melakukan razia dari satu.motor ke motor yang lain. Untungnya, Gee selalu menggunakan kendaraan umum jika akan bepergian kemana saja. Kali ini, Gee akan menghadiri acara seminar kepenulisan di Balai Kota, Bandung.
Ketika akan menyebrangi jalan, terdengar suara klakson motor menghampiri Gee.
"Hei!" Sahut seseorang dibalik helm kyt hitam pengendara motor itu. Membuat jantung Gee berdegup kencang tak beraturan.
"Siapa?" Batinnya sembari menoleh ke belakang.
Motor itupun berhenti di samping kiri Gee. Terlihatlah wajah si pemilik motor itu saat ia membuka helmnya.
"Ooh, kamu." Gee segera menundukkan kepalanya setelah tahu siapa wajah dibalik helm kyt itu.
"Mau kemana?" Tanya seseorang itu.
"Ke sana." Terlihat dari bola mata Gee, bahwa Gee memang tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang itu.
"Mau di anter?" Katanya lagi. Namun Gee hanya membalas dengan dua kali gelengan kepala.
"Yoo, aku duluan ya!" Lelaki itu pun segera mengenakan helmnya kembali dan menancap gas lalu pergi dalam hitungan detik.
"Bismillah" Gee pun melangkahkan kaki, melirik ke kiri dan kanan. Memastikan tak ada kendaraan yang sedang melaju kencang. Entah ada angin apa yang membuat mata Gee berkedip lama, lalu tiba-tiba saja terdengar suara cekitan motor, dan langitpun berubah menjadi gelap. Ada sedikit rasa ngilu, perih dan tetiba semuanya tak terasa lagi. Seakan semua hilang. Pagi Giana yang cerah itu seketika berubah menjadi malam. Berwarna biru lebam.
...
Sudah melewati waktu yang ditetapkan untuk memulai acara seminar tersebut. Namun sang MC terbaik belum tiba juga. Berulang kali para panitia yang bertanggung jawab penuh atas diadakannya acara seminar tersebut menghubungi rekannya yang ternyata tak bisa dihubungi.
"Kalian tau nomor Giana yang lain gak? Susah banget dihubungi nih nomernya." Ujar Mas Radit, yang bertanggung jawab penuh atas acara seminar tersebut.
"Sama, saya juga daritadi ngehubungin dia tapi panggilannya dialihkan mulu." Tukas Erik. Yang memiliki amanah serupa untuk mendampingi Giana sebagai MC di acara tersebut.
"Kemana ya? Coba tanya Laras." Mas Radit pun berjalan ke samping kiri mencari Laras. Laras, adalah teman dekat Gee. Tidak terlalu dekat, tapi memang kenal. Mereka satu sekolah ketika SMA, namun tidak satu kelas. Hanya satu ekstrakulikuler, Jurnalistik.
Tak bertemu dengan Laras, malah Laras pun terlihat buru-buru sekali turun dari lantai dua mencari-cari Mas Radit. Septi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, tetiba terganggu dengan suara sepatu milik Laras, karena memang berisik sekali. Septi mendelik penuh keheranan.
"Ras, lari-lari mulu. Awas jatuh!" Teriak Septi dari sofa dekat jendela.
"Teh, liat Mas Radit?" Ucap Laras cemas.
"Kenapa sih?" Septi semakin heran campur khawatir.
"Duh, gak ada waktu lagi. Bentar, teh." Belum selesai bicara, Laras pun berlari lagi mencari Mas Radit. Septi pun segera menyusul Laras, disusul Erik yang memang sudah penasaran melihat Laras yang begitu cemas dari kejauhan tadi.
Tepat di samping pintu masuk, dekat rangkaian bunga mawar biru plastik pesanan Gee. Mas Radit masih sibuk dengan ponselnya, berusaha mencari kabar dari Gee. Laras yang melihat Mas Radit dari lorong sebelum masuk ke tengah-tengah aula pun segera berlari mendekati Mas Radit.
"Mas Radit, aku cari-cari ih." Ucap Laras sedikit terengah.
"Ada kabar dari Giana?" Mas Radit kali ini benar-benar cemas. Disamping para peserta seminar sudah lumayan banyak, ditambah MC nya belum datang-datang juga. Apalagi ini menyangkut Giana. Bukan apa-apa, Mas Radit terbilang dekat secara batin dengan Gee.
"Aku baru dapet kabar dari mamanya Gee, Gee kecelakaan. Sekarang lagi di jalan menuju rumah sakit."
"Innalillahi, duh. Gimana ini ya." Terlihat kedua bola matanya kesana kemari mencari Erik, disisi lain ada sedikit cairan bening yang mulai membasahi kedua bola matanya. "Nah, Erik. Bantu saya ya. Acara ini harus tetep jalan, soalnya gak enak sama peserta yang udah datang. Sorry ya, kayaknya saya harus ke rumah sakit jenguk Giana." Erik memahami betul apa yang dirasakan oleh Mas Radit, begitupun dengan panitia lainnya yang ikut bertugas. "Ras, rumah sakit mana?" Tanya Mas Radit menahan sesak.
"Imannuel sih katanya." Tanpa banyak berpikir lagi, Mas Radit pun bergegas menuju aula dan menyambut para peserta beberapa menit. Setelah itu pamit karena Giana yang bertugas menjadi MC kecelakaan beberapa jam lalu. Para peserta pun ikut berempati saat mendengar berita tersebut. Malah ada yang mengusulkan lebih baik pergi bersama-sama menuju rumah sakit menjenguk Giana, meski harus mengorbankan seminar kepenulisan yang akan diadakan saat ini. Tetapi yang namanya komitmen harus tetap dipegang, Mas Radit tetap memilih Erik sebagai MC pengganti dan acara harus tetap dilaksanakan. Mas Radit pun segera bergegas ke rumah sakit.
...
Ada pelangi. Melengkung dengan indahnya. Entah kenapa pelangi itu sangat dekat dengan kepalaku. Mudah diraih. Tapi tetap saja tidak tergenggam. Seperti cahaya matahari. Hanya bayangan.
Ada melodi. Suara instrumental yang begitu aku suka. Diiringi dengan penari balet yang selalu aku kagumi. Entah mengapa suaranya begitu terkesan sampai ke hati.
Ada lelaki. Dengan hafalan qur'annya. Ah, iya. Itu dia Muhammad Thaha Al-Junayd. Oh, suaranya begitu indah sekali. Aku senang mendengarkannya. Hatiku serasa tentram.
Gerimis. Aku selalu suka dengan gerimis. Butirannya mampu melesapkan gersang pada jiwa.
Tunggu
Cahaya apa itu?
...
Giana tetiba tersenyum.
Bersambung







2 komentar:
Mantaaap....kata-katanya ceria dan alurnya lancar...Sukses ya
Terimakasih.. ^^
Posting Komentar