Elegiana #2

Lanjutan

Melihat Gee yang tersenyum tipis membuat mama Gee yang menemani Gee heran. Apa yang sedang Gee lakukan di sana? Bukankah dokter mengatakan bahwa Gee mengalami koma? Bagaimana bisa Gee tersenyum senang seperti itu sedangkan mamanya begitu khawatir melihat Gee begini.

Terdengar suara langkah kaki yang terburu menuju bibir pintu. Terbukalah pintu tersebut. Lalu terlihat lelaki bertubuh kurus layaknya tentara, mengenakan kemeja berwarna hitam. Memasang wajah yang begitu panik, sedih, resah, marah, kesal, sesal, semua.
"Ma, Giana kenapa sih kok bisa kayak gini?"
"Menurut saksi, kejadiannya emang sedikit aneh. Giana belum sempet nyebrang, tapi ada kecelakaan motor dan mobil dari arah kiri. Gatau kenapa motornya terpental jauh, jadi kayak yang lepas aja dari si pengendaranya. Roda depan motornya kena kaki Giana, lalu terseretlah Giana yang akhirnya terbentur mobil yang sedang melaju."
"Astaghfirullah, tapi kepalanya gak kenapa-kenapa kan ya?"
"Kepalanya terbentur cukup keras. Mengakibatkan banyak darah yang keluar. Dan Giana butuh pendonor sekarang."
"Astaghfirullah..." Mas Radit semakin dirundung cemas.
"Nak, Radit. Sama Giana masih?"
"Masih apa maksudnya?"
"Hubungan?"
"Oh, sebenernya dua hari yang lalu lagi ada sedikit masalah. Cuma salah paham aja sih sebenernya. Tapi gatau kenapa Giana tiba-tiba minta break. Katanya sih gak mau ngerepotin. Padahal saya gak ngerasa repot sama sekali."
"Mm, pantes aja dari kemarin Giana murung. Ditanya mama gak mau jawab, emang dia gak pernah banyak cerita. Cuma buku-bukunya aja yang banyak menuhin lemari."
"Iya, Giana emang sensitif dan apa-apa tu gak bisa jujur. Dia sering salah paham kalau saya bilang ini itu suka mikirnya kalau saya tu marah apa gimana. Padahal nggak sama sekali. Tapi tiap kali ditanya gimana, kenapa, atau apa yang dipengen dia selalu bilang gak apa-apa."
"Nih, hp Giana. Tadi sempet gak nyala, tapi lama-lama bisa nyala juga. Ada curhatan di sini. Coba lihat sama Radit."
Radit pun meraih ponsel milik Giana dari tangan Mama Giana. Dilihatlah layar ponsel Giana. Disana terlihat wallpapper bergambar Giana sedang memegang kucing kesayangannya.
"Dimana curhatannya?"
"Nih" ditunjukilah sebuah catatan khusus milik Giana oleh mamanya.
Tertulis begini di dalamnya;
"Maafin Gee ya Mas Radit. Gee ngerasa belum bisa jadi pasangan, partner, teman, atau segalanya yang baik-baik buat Mas Radit. Mas Radit baik sama Gee. Tapi Gee yang seringkali gak baik sama Mas Radit. Gee sering bikin Mas Radit kesel, pusing sama kelakuan Gee yang kayak gini. Mas Radit, kalau emang kita berjodoh. Allah pasti satukan kita ya? Gee gak mau bikin emosi Mas Radit terkuras hanya karena Gee. Gee ngerepotin banget ya, Mas Radit? Maafin Gee, ya. Gee gak mau lama-lama jauh, Gee pengen banget jadi partner terbaik buat Mas Radit. Tapi Gee emang harus banyak tafakur diri lagi. Gee emang masih kayak anak kecil ya. Nyebelin. Yang perlu Mas Radit tau, meskipun Gee minta break. Mas Radit gak akan pernah bisa terganti. Kecuali Allah yang memaksa. Terpaksa, Gee harus. Giana sayang, Mas."

Radit menunduk. Merenung. Banyak berpikir. Menyesal kenapa kondisi Giana saat ini harus terbaring tak sadarkan diri. Menanti detik-detik rahmat dari Allah, berharap Giana tersadar dari tidur lelapnya. Banyak sekali yang ingin Radit ungkapkan.
...
Selesai sudah acara seminar kepenulisan yang dilaksanakan di Balai Kota Bandung tersebut selama kurang lebih dua jam. Acaranya alhamdulillah berjalan dengan baik berkat rahmat Tuhan. Kabar lainnya, ada beberapa peserta yang berniat untuk ikut menjenguk Giana ke rumah sakit bersama dengan Laras, Erik dan Septi sore harinya.
"Teh Laras, gimana kabar terbaru dari Teh Gia?" Tanya Anita, seorang remaja yang berusia belasan tahun, dengar-dengar Anita ini memang dekat dengan Gee meskipun hanya dari media sosial.
"Loh, Nita kenal sama Giana?" Sahut Laras mendelik penuh kejut.
"Iya, Teh Gia udah kayak kakak buat aku. Teh Gia sering jadi motivator aku, Teh." Jawab Anita antusias.
"Hoo, iya. Giana emang humble orangnya. Dia seneng dengerin cerita siapa aja, seneng kasih motivasi sama orang lain. Tapi dia sendiri tertutup orangnya." Timbal.Laras sedikit mengungkapkan kebenaran tentang Giana.
"Teh Gia sering ceritain tentang dia dan sedikit kehidupannya buat kasih gambaran ke aku, kalau yang mengalami kejadian menyakitkan dalam hidup bukan cuma aku aja, tapi dia juga. Gitu, Teh."
"Iya, Gia memang seperti itu. O iya, tadi nanyain.kabar Gia ya. Gia belum sadarkan diri sekarang. Tadi Mas Radit baru ngabarin."
"Kasihan Teh Gia. Padahal dia orangnya baik."
"Gak ada yang salah sama takdir. Allah tahu yang terbaik. Dan segalanya paeti mengandung hikmah." Laras tersenyum penuh arti.
...
"Oh, jadi kalian lagi jalan ke sini? Berapa orang yang ikut?" Tanya Mas Radit melalui ponsel.
"Cuma 8 orang lah total."
"Septi, ikut?"
"Iya, dia ikut juga."
"Oke, saya tunggu kehadirannya."


Tak lama kemudian Giana terlihat sedang menangis ketika Mas Radit kembali menemuinya setelah selesai berbicara dengan Erik melalui telfon. Mas Radit pun mendekat ke telinga Giana, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Gee, ni Mas Radit. Cepet sembuh, Mas kangen pengen becandain kamu. Mas ada di sini, cepatlah bangun. Jangan lama-lama tidur." Berhenti sejenak. "Giana harus kuat, harus semangat buat jalani hari ke depannya." Lanjutnya.
...
Gee melangkah mendekat kepada cahaya yang semakin benderang itu. Setelah semakin dekat, terdengarlah suara tangis yang saling berlomba mengaduh menjerit-jerit. Entah dimana semua orang itu berada, yang terlihat hanyalah seakan mentari yang jaraknya begitu dekat. Panas, menyala-nyala. Jika saja Gee melangkah lebih dekat lagi, Gee akan terbakar hidup-hidup hanya karena melihat sinarnya saja, saking panasnya.


Cahaya apa itu?
Mengapa menyengat sekali?


Selang beberapa detik, Gee seakan melihat cuplikan layar lebar. Melihat beberapa rekannya saling seret menyeret, yang satu ingin ke kanan, yang satu lagi menyeret ingin ke kiri. Keduanya menangis menjerit-jerit. Mengadu pilu.


Apa itu? Mengapa seperti itu? Aku dimana? Lalu apa semua ini? Tempat apa ini? Aku tak mengingat apapun.
Apa yang terjadi?


Gee semakin bingung.
Cuplikan itu secara otomatis berubah, kali ini Gee melihat banyaknya sekumpulan semut berjalan mengitarinya. Seakan-akan ikut merasakan. Gee melihat ke sekililingnya, tak ada satupun semut-semut itu.
Semakin dekat jarak mereka dengan Gee, semakin jelaslah bahwa semut-semut itu begitu gaduh berkata-kata. Namun apa yang dikatakannya? Rasa penasaran menggumpal dalam benak Gee.
Cuplikan itu berubah lagi, kali ini Gee serasa ikut masuk ke dalam cuplikannya. Suasana berubah, entah dimana. Yang terlihat hanya kunang-kunang yang beterbangan di malam hari. Tak ada pelangi, tak ada melodi, tak ada gerimis. Semua hening, senyap, sepi, menyendiri.
Tetiba saja ada sosok mengenakan pakaian serba putih. Ia mendekat selangkah demi selangkah berjalan menuju Gee.
Gee melirik tajam penuh kewaspadaan.
Sesampainya sosok itu, ia tersenyum penuh makna. Gee tak mengerti.
"Elegiana Naura Zahra" sosok itu menyebut nama lengkap Giana.
"Siapa?" Giana bertanya gugup.
"Tak perlu takut, akulah yang senantiasa mendampingimu kemanapun kamu pergi."
"Aku tak ingat, aku tak mengenalmu."
Sosok itu tersenyum lagi begitu teduh.
"Masih banyak hal yang ingin kuperlihatkan kepadamu, Elegiana."
"Seperti tadi?"
Sosok itu mengangguk pelan tanpa hilangkan senyum pada wajahnya.
"Kau ingat sesuatu mengenai sebab mengapa kamu berada di sini?"
Kali ini Gee menggeleng tak tahu apapun. Gee sama sekali tak mengingat semuanya.
"Ikutlah bersamaku, akan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Gee tanpa ragu mengikuti kemana sosok itu membawanya.
...
Gee masih tak sadarkan diri. Tetapi air matanya berhenti menetes. Mas Radit menggenggam jari jemari Gee. Berharap Gee dapat merasakan sentuhan darinya.
Entah mengapa waktu seakan berjalan begitu lambat ketika berada di dalam kondisi menyakitkan begini.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Lanjutkan mbak, saya sukaa ^-^

De Falahudin (CaritaKita) mengatakan...

Waaahhh....ceritanya Mantaaap....di tunggu kelanjutannya ya

Ciani Limaran mengatakan...

Siapa lagi nih yang mau ditemuin... penasaran.

Posting Komentar