Rei, begitulah orang-orang memanggilku. Terkadang, Chaca. Sewaktu-waktu bisa juga menjadi Esha. Lengkapnya sih Reisha, emang sering ketuker sama Raisa istrinya Hamish Daud yang baru aja nikah tempo lalu. Untungnya aku gak pinter nyanyi, jadi selamatlah aku dari pertukaran ini.
Aku sama dengan yang lainnya, pernah ngalamin masa kecil. Reisha kecil tumbuh di Kota Cimahi, cuma sampai kelas 5 SD aja sih, selanjutnya pindah ke Kabupaten Bandung, sekitaran Soreang. Tinggallah di sana hingga kini. Rei kecil sampai sekarang orangnya tetep pendiem dan polos, lugu tapi karena punya wajah jutek jadi sering dikatain jutek dan sombong sama orang-orang yang belum kenal dekat--karena pendiamnya.
Sama seperti yang lainnya, ngalamin sekolah di TK, SD, SMP, SMK dan pernah juga kuliah. Tetapi, qodarullah kuliahnya nggak sampai tamat. Disanalah proses pendewasaan untuk Rei dimulai. Ketika Rei menginjak usia kepala 2, tepat di angka 20. Seakan-akan hidup terasa berat ketika dijalani.
Bukankah yang berkesan dalam hidup adalah mereka yang tak pernah sampai terlupakan? Selalu teringat? Kalau iya, biar kusampaikan pada semesta bahwa cerita yang paling berkesan dalam hidupku adalah disaat aku mengalami perih, pahit, dan sakitnya dalam perjalanan hidup ini.
Disaat aku benar-benar drop, down, entahlah. Seakan tak ada satupun makhluk Allah yang menemani selain hanya tumpukan kertas, selain hanya sajadah untuk menyembah Ia Yang Esa. Wallahi.. Ketika kontak teman-teman di HP bejibun banyaknya, ketika teman-teman di kontak BBM bejibun banyaknya, ketika akun teman-teman di FB yang beribu-ribu banyaknya tetapi hanya satu dan dua orang saja yang mampu mengingat dan bertanya tentang kabarku. Benarlah, teman yang tak kenal musim itu susah sekali didapatkannya.
Kalau ditanya, "Emang apa sih masalahnya sampai bisa drop?" Atau, "Kamu masih muda, kenapa harus banyak pikiran? Emang apa yang jadi pikirannya sampai bisa down kayak gitu?"
Jawabannya; Karena kurang bisa menikmati hidup. Ketika seseorang seperti aku banyak memendamnya. Banyak memikirkan kebahagiaan orang lain. Banyak nggak enakannya. Banyak malesnya. Banyak sensitifnya. Banyak merasakan hal yang gak perlu dirasain. Banyak hal yang dipikirkan dan seharusnya gak perlu dipikirin sama sekali. Ketika kenyamanan yang benar-benar kenyamanan itu sangat dibutuhkan olehku tetapi aku tidak mendapatkannya. Otomatis aku seperti halnya soda yang ketika dikocok dan diaduk terus menekan diri agar bisa melompat keluar menghindari semuanya. Akhirnya aku pun terpental keluar, menjauh dan memang terlempar jauh dari semuanya. Aku berjalan dan tinggal sendirian. Asing di tengah-tengah keterasingan. Dan dalam waktu yang cukup lama aku mengasingkan diri. Mulai merangkak dan menata hidup kembali.
Ya, bagi aku. Sepotong episode di dalam hidupku yang paling berkesan adalah ketika aku mengalami kegagalan. Gagal dalam menyelesaikan studi. Gagal membahagiakan orangtua di masa itu. Gagal menunjukkan rasa terimakasih kepada Tuhan di saat itu. Gagal dalam mempertahankan tanggung jawab di kala itu. Kegagalan demi kegagalan yang terus menerus aku rasakan.
Kepercayaan diri yang perlahan mulai mengendur semakin mengendur. Sampai aku berpikir, "Hidupku ini sudah seperti halnya sampah. Tak berguna." Kenapa bisa gitu? Karena gak ada hal yang bisa aku lakukan. Ketika semua orang berlalu lalang dengan semua rutinitas dan pekerjaannya. Diberikan tanggung jawab dan bisa memberikan kebahagiaan pada sesama berupa materi, atau yang lainnya dalam rangka berbagi. Lalu aku? Apa yang bisa aku lakukan selain hanya menulis, menulis dan menulis yang nyatanya tak menghasilkan apapun selain hanya membaca ratap demi ratapan yang dibuat oleh diri.
Nggak ada, gak ada satupun panggilan kerja dimana aku sudah menyebarkan surat lamaran kerja. Seakan hidupku ini memang tak berarti.
Tahukah kalian kesedihan apa yang paling menggerogoti hati dan jiwa? Ya, disaat kita hanya membiarkan detik yang berlalu tanpa ada karya apapun. Tanpa ada kebermanfaatan apapun. Mau melakukan ini dan itu susah, maa sya Allaah. Seperti hidup di dalam sangkar, atau tempurung. Sulit untuk beranjak dan bergerak. Terlebih karena terbayang oleh masalalu yang memalukan. Bagaimana bisa mempertahankan tanggung jawab? Begitulah.
Selama kurang lebih tiga tahun lamanya terdidik oleh rasa bersalah dan semacam introspeksi. Berbenah dan bersiaga untuk kembali bangkit lalu mengejar mimpi.
Alhamdulillah, masuk ke tahun ini aku merasa hidupku sudah ada perbaikan. Pertama, hidupku mulai tertata dengan benar. Kedua, apa yang kuharapkan akhirnya dapat terwujud. Yakni; mendapatkan pekerjaan yang alhamdulillah menghasilkan. Bisa menjadi bukti bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terus menerus dalam kesusahan. Lagipula, tak ada kesusahan dan kesulitan yang tak diundang oleh kelalaian diri. Anggaplah selama tiga tahun ke belakang itu merupakan punishment untuk aku. Biar aku bisa mikir, kalau ternyata hidup itu bukan hanya soal diri. Tapi juga soal sesama. Karena kita nggak hanya hidup sendiri, tapi bersama.
Ya.. setidaknya untuk saat ini aku bisa menebus kesalahan dan kelalaian serta kealfaanku yang lalu dengan cara seperti ini. Mengemban sebuah amanah, dan berupaya sebaik mungkin.
Dan kalian tahu apa rahasianya?
Aku juga gak pernah menduga sebelumnya kalau hidup aku ternyata bisa berubah juga.
Awalnya sih perbaiki hubungan diri sama Allah, dengan cara perbaiki sholat dan sering interaksi dengan Al-Qur'an. Karena disaat itulah rasa percaya kita kepada Allah muncul, yang menyebabkan kita akan lebih menghargai diri sendiri dan percaya akan kemampuan diri. Karena diri ini pun adalah ciptaan-Nya. Kalau bilang gak mampu, atau gak bisa, atau minder atau apapun yang lainnya. Sama aja kayak mengolok-olok Allah, apalagi kalau ngatain diri sampah dan gak guna. Padahal, gak ada satupun makhluk ciptaan Allah yang sia-sia, bahkan babi dan tikuspun ada manfaatnya. Apa? Menguji kita. Kalau kita bisa lulus ujian, ya dapat pahala. Manfaatnya untuk siapa? Kita. Dan, kalau gak ada tikus. Tukang lem tikus mungkin gak akan pernah ada.
Kalau kepercayaan kepada diri sudah muncul, maka mau bertindak apapun yang asalkan halal dan diperbolehkan tidak melanggar aturan yang semestinya, in syaa Allah semua akan dimudahkan. Intinya, "Bergerak".
Ya, itu. Allah akan menunjukkan jalannya ketika kita mau bergerak dan melangkah.
Demikianlah cerita tentangku dan sepotong episode masalalu yang begitu berkesan untukku. Mungkin di episode selanjutnya akan ada kenangan lagi yang buat aku gak bisa lupa. Married misalnya. Ehehehe.
Oke, terimakasih kepada kalian yang sudah dan mau membaca tulisan ini sampai akhir.







22 komentar:
Mantap kisah hidupnya...tetap semangat dan "Bergerak"...
Aamiin. Terimakasih, untukmu juga. ^^v
Ana pun pernah mengalami episode "down" ini.
Biarlah masa lalu menjadi pupuk kuat untuk kita menjalani masa ini dan masa depan.
Semangat ^^
Kalau kata motivator sih, "Menghabiskan jatah kegagalan." Hehehe..
Semoga untuk ke depannya bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Tetap semangat jugaa.. ^^v
Semua orang pasti pernah merasakan down seperti kak rei, termasuk saya hehe.. Alhamdulillah sudah ada jalan keluarnya untuk kak rei, tulisannya juga bagus kak mengalir juga penuh motivasi
Supeer sekali tulisannya Mbak Raisa, jujur banyak rasa yang teraduk saat baca ini, ada marah, sedih, bangga, dan bahagia.
Menginspirasi agar kita tidak mudah berputus asa.
Well, good job!
Ini frasa yang saya suka, "Asing di tengah-tengah keterasingan."
Sukses dan semangat terus NGODOP-nya ya
Masya Allah keren, dulu aku juga seperti ini, pendiam. banyak memendam masalah sendiri dan pokoknya i know what u felt deh hahaha. beruntung menulis menjadi salah satu terapi yang baik untuk diri sendiri. emosi bisa tercurahkan saat menulis, hehehe..
Alhamdulillah, terimakasih komentarnya. Hehe, iya ya. Pasti bukan cuma aku aja. Tapi kalau waktu ngalaminnya mah berasa kayak aku doang. :D
Wah Kak Fery ikut komentar ma saya nya jadi makin semangat lagi buat nulis. Hehehe, Alhamdulillah kalau tulisannya sarat makna dan bawa manfaat. ^^
Haha, terimakasih komentarnya. Banyak yang bilang keren ya. Padahal waktu aku ngalamin penuh gejolak di dada. Sedih iya, kecewa iya, putus asa iya. Nah disaat udah jadi tulisan malah dikatain keren.
:v
Tapi, terimakasih :v
Tidak selamanya gagal itu negatif. Terkadang kegagalan jalan mundur 1 langkah untuk lari 1000 langkah
Maa sya Allah. Iya, betul sekali Mbak Dewi. Terimakasih sudah berkunjung. ^^
Bagus tulisannya mbaa... semangat terus yaah
Terimakasih, semangat juga yaa.. ^^v
Aku kehabisan kata2
Sulit mengutarakan bait2 dalam cerita
Tahukah bahwa aku merasa kita ada persamaan
Kok bisa iya sama2 bahas introvert?
Cerita masa lalu yang pahit?
Ciyee ..
Mantap tulisannya...
Yaudah.. semangat aja. Wkwkwk
Semang teh,, ekspresikan dengan banyak karya menulisnya 😊
Iya, terimakasih banyak. ^^
Ceritanya keren... Mudah2an nular ilmunya...
UHUHUHU tercyduk mbak rey :) :) :) sukses terus ya :) moga bisa nular ilmu nulisnya ke saya :)
Bener banget mba. Kita tak boleh merendahkan diri sendiri. Karna Allag sudah menciptakan kita dengan sangat sempurna.
Semangat kak 😊
Masyaallah terimakasih cambuk pengingatnya kak
Posting Komentar