Lanjutan
Mau tak mau, yakin tak yakin, Gee tetap harus mengikuti kemana sosok itu membawanya pergi. Semua sudut jalan yang Gee lihat nampak begitu gelap mencekam. Hanya sinar dari makhluk berjubah putih itulah satu-satunya sumber cahaya yang mampu menerangi jalan Gee.
Tak lama dari itu terdengar suara cekitan yang begitu keras melengking, diikuti dengan teriakan-teriakan yang menjerit-jerit mengaduh kesakitan membuat telinga sesiapun yang mendengarnya kesakitan.
Suara-suara itu seperti suara manusia yang sedang menerima pecutan atau siksaan, atau hal yang lain sebagainya.
Rasa takut pun mulai menghantui Giana disambut dengan lengkingan suara itu yang semakin terus menguat, benar-benar menakutkan. Ingin berlari namun entah harus lari kemana.
Terhenti.
Sosok berjubah putih itu menoleh, Gee terdiam tak mengerti. Menunggu lawan bicaranya mengatakan sesuatu tentang semua ini.
"Lihat, Gee." Ia pun menunjuk ke arah utara.
"Apa yang harus kulihat? Aku tak melihat apapun selain hanya suara-suara yang sulit untuk aku jelaskan." kilah Gee.
"Lihatlah sekali lagi." Ucap sosok itu tenang.
Gee hampir putus asa dan rasanya ingin berteriak memaki. Apa yang sebenarnya makhluk itu inginkan darinya?
"Lihatlah oleh mata hatimu, Gee." katanya sekali lagi.
Gee berusaha sekuat tenaga untuk melihatnya, tapi tak ada sedikitpun sesuatu yang bisa ia lihat. Gee mulai frustrasi.
"Tadi kamu bilang ada sosok yang harus kutemui? Mana? Siapa?" Giana malah mengalihkan pembahasan.
Sosok berpakaian putih itu terdiam sejenak.
"Pejamkan matamu." Giana pun mengikuti perintah makhluk itu. Kedua bola mata Gee pun terbiar memejam, sementara sosok itu berkata-kata begitu panjang.
"Apa yang kamu lihat nanti, tolong ingatlah sesuatu yang mampu membuatmu tenang lebih dari apapun yang ada di muka bumi ini." Mendengar perkataan tersebut, Gee mengangguk pelan mengiyakan.
"Apa yang kamu lihat nanti, berjanjilah untuk mengikuti apa yang diperintahkan kepadamu." katanya lagi. Gee mengangguk lagi.
"Baiklah, buka matamu dalam hitungan ke lima."
Giana mulai menghitung.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Seperti sebuah jendela yang terbuka di pagi hari, begitu pula dengan mata hati yang ikut terbuka saat itu. Dan pada saat Gee membuka mata,
"AllaahuAkbar!" jerit Gee sembari menutup kedua bola matanya dengan ke-sepuluh jarinya.
"Astaghfirullah.. Apa itu? Siapa itu?" Giana masih tak ingin melihatnya. Giana benar-benar ketakutan. Jantungnya berdegup begitu cepat. Dadanya seakan terbakar begitu panas.
Lalu kedua bola mata Gee mengitari sekitarnya mencari-cari makhluk berjubah putih yang sedari tadi menemaninya, namun Gee tak juga berhasil menemukannya.
"Kemana sosok itu? Kenapa malah..."
"Jangan takut, Giana." Sosok itupun ternyata dapat berbicara.
"Makhluk apa kamu? Mengapa seperti ini?" Giana seolah jijik dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Aku senang, karena kamu benar-benar telah mengingat sesuatu yang tepat ketika melihat aku."
"Hmm? Apa maksudmu?" Giana tak mengerti.
"Kelak, kamu pun akan memahami maksudku."
"Lalu, siapa kamu?"
"Aku adalah kamu, aku adalah setiap kali kamu merasa marah dan tak menerima apapun yang telah terjadi kepadamu. Kamu berbohong. Kamu menyiksa dirimu sendiri. Kamu angkuh. Kamu picik. Kamu lalai. Kamu kurang sedekah. Kamu pelit. Kamu mudah iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Kamu mudah mengeluh. Kamu... "
"Cukup!" Gee tak ingin mendengarnya lagi.
...
Nafas Gee mulai tak beraturan. Ia terlihat begitu gelisah dan kesakitan. Radit yang melihat kondisi Giana tetiba seperti itupun terkejut seketika, Radit pun mencari-cari tombol darurat, dan ketika berhasil ditemukan ia pun bersegera menekan tombol hitam tersebut yang ternyata berada dekat dengan kepala Gee. Ia memanggil-manggil suster, agar segera datang untuk menolong Gee.
Pikiran Radit mulai resah, berkecambah tak tentu arah. Hal terburuk pun mulai mengganggu pikiran Radit.
"Rabbi.. Jangan dulu." bola matanya semakin basah. Ia tak bisa menahan rasa sedih dan cemas di dalam hatinya.
Tak lama, salah satu orang dokter ditemani oleh beberapa suster datang berhamburan, sang dokter pun mulai menekan-nekan dada Gee menggunakan alat pemacu detak jantung. Dibantu oleh suster yang ikut membersamainya. Hingga tubuh Gee pun setengah terangkat ketika diletakkan alat tersebut. Namun nafasnya masih begitu berat.
"(Hanya sebuah anggukan pelan)" dokter memberikan isyarat kepada salah seorang suster, lalu suster itupun memerintahkan Radit supaya menunggu di luar ruangan. Agar sang dokter bisa lebih fokus dalam menangani pasiennya.
Radit pun keluar dengan wajah yang merah padam, hatinya bergejolak penuh dengan kegelisahan.
"Maa sya Allaah, Gee.." Radit menangis sejadi-jadinya.
Bersambung







0 komentar:
Posting Komentar