Pasti kita semua pernah deh ngalamin yang namanya depresi, kesel, kenapa harapan-harapan yang sering kita panjatkan susah banget terkabul.
Pengen dapet kerjaan, padahal kirim lamaran udah banyak dan berjelajah kemana-mana. Tapi, hasilnya masih aja nihil.
Pengen dapet jodoh, padahal kita udah perbaiki diri kita sendiri, ya setahu kita kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.
Dan masih banyak hal lainnya yang kita pinta namun masih saja sulit untuk didapatkan.
Nah di sini, aku pengen banget berbagi pikiran. Apa yang aku rasakan, apa yang aku alami dan selalu aku pikirkan sampai aku menemukan sebuah titik singgung yang saling bertautan. Cielah bahasanya.
Intinya yang pengen aku kasih tau ni ya..
Sebenarnya, الله tuh selalu mengabulkan setiap harapan-harapan kita. Mau sebanyak dan sebesar apapun permintaan itu الله pasti selalu kasih ke kita.
Sebenarnya, الله tuh selalu mengabulkan setiap harapan-harapan kita. Mau sebanyak dan sebesar apapun permintaan itu الله pasti selalu kasih ke kita.
Hanya aja yang musti kita renungkan, sudah layakkah kita mendapatkannya? Sudah siapkah kita menerima harapan tersebut?
Nih berdasarkan pengalaman aku ya. Dulu, ya beberapa tahun ke belakang deh. Aku tu kan pengen banget ngisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Bayangin aja setiap hari kerjaannya diem mulu di rumah. Udah banyak diomongin tetangga lagi. Nikah ngga, kerja ngga. Ngapain cobba.. Meskipun sebenernya itu urusan pribadi aku, tapi tetep aja sih risih dengernya.
Padahal waktu itu aku udah kirim-kirim surat lamaran juga kan, tapi ngga tau deh kenapa gak ada yang manggil-manggil juga.
Padahal waktu itu aku udah kirim-kirim surat lamaran juga kan, tapi ngga tau deh kenapa gak ada yang manggil-manggil juga.
Dan setelah dipikir-pikir sekarang. Alhamdulillah sih, kalau sekarang aku udah punya kegiatan yang bermanfaat juga. Eh.. Bentar.. Lanjutin dulu yang tadi.
Nah, setelah dipikir-pikir disaat aku udah punya kerjaan kayak sekarang. Kenapa dulu aku susah banget buat dapet kerja.
Pertama, aku sendiri belum siap menerimanya. Diri aku sendiri sebenernya menolak semua itu untuk terjadi. Karena memang gak ada keinginan dari diri sendiri. Sebenernya ada, tapi nggak di bidang itu. Maksudnya ngga di tempat-tempat yang aku tujukan surat lamaran pekerjaan.
Aku sendiri orang yang introvert, dan susah untuk bersosialisasi dengan mudah. Aku juga gak bisa kalau berada di bawah tekanan. Aku paham siapa aku, jadi gak mungkin kalau aku harus kerja di tempat yang aku sendiri tau kalau aku pasti gak akan nyaman.
Hanya aja waktu itu aku coba-coba aja, demi memuaskan hati orangtuaku.
Hanya aja waktu itu aku coba-coba aja, demi memuaskan hati orangtuaku.
Kedua, karena memang bukan di sana jalannya. Kayaknya Allah juga tau aku gak akan mungkin bisa jalani itu. Bukan bidangnya. Bukan ahlinya. Dan pasti bakal kerepotan nantinya. Dan meskipun dipaksakan juga tetep aja gak akan bisa.
Tapi coba lihat kejadian selanjutnya. Ketika aku ada keinginan dan niat yang kuat. Tekad aku juga udah bulat dan semua keragu-raguan aku sendiri bisa aku tepiskan. Eh.. Akhirnya dapet juga kan kerjaan.
Kenapa aku bisa berada di dalam pekerjaanku sekarang?
Karena meskipun aku mengalami kesulitan setidaknya aku bakalan seneng dalam mempelajarinya.
Nggak akan mungkin bisa dipatahkan karena aku bakal menikmatinya. Allah juga tau itu.
Karena meskipun aku mengalami kesulitan setidaknya aku bakalan seneng dalam mempelajarinya.
Nggak akan mungkin bisa dipatahkan karena aku bakal menikmatinya. Allah juga tau itu.
Dan ketika harapan itu terkabulkan..
Sebenarnya Allah juga tau kalau kita bisa menerima dengan lapang semua takdir dari apa yang kita harapkan itu.
Sebenarnya Allah juga tau kalau kita bisa menerima dengan lapang semua takdir dari apa yang kita harapkan itu.
Contoh lain.
Kita pengen jadi orang kaya. Tapi kita sendiri gak memberikan bukti kongkrit kalau kita layak jadi orang kaya.
Kerjanya aja ogah-ogahan. Semua bidang dipilih-pilih dan ingin enaknya aja. Mental kita sendiri aja nggak cukup untuk menjadikan kita orang kaya.
Kita pengen jadi orang kaya. Tapi kita sendiri gak memberikan bukti kongkrit kalau kita layak jadi orang kaya.
Kerjanya aja ogah-ogahan. Semua bidang dipilih-pilih dan ingin enaknya aja. Mental kita sendiri aja nggak cukup untuk menjadikan kita orang kaya.
Lalu, ketika kita sudah menjadi orang kaya. Bisa ngga kita jaga amanah sebagai orang kaya?
Bagaimana kalau kita banyak melewatkan sesuatu?
Bagaimana kalau kita banyak melewatkan sesuatu?
Ketika Allah ingin kita banyak berbagi. Memperhatikan urusan anak-anak yatim. Eh kita malah sibuk dengan hawa nafsu kita sendiri dan lalai dengan semua perintahnya.
Tapi, kalau kita bener-bener bisa dipercaya dan bisa membuktikan bahwa diri kita layak menjadi orang kaya. Pasti deh semua itu bakal terwujud tanpa kita duga. Jalan nya bakal muncul sendiri. Serius.
Dan kuncinya supaya terkabul apa?
Sering-sering bersyukur. Jangan pernah berpikir buruk.
Sebelum mengeluhkan kondisi yang menurut kita tidak enak ada baiknya kita cari dulu hal-hal baik yang bisa kita syukuri. Karena itulah hal-hal yang dapat membuat hidup kita lebih mudah ketika dijalani.
Sering-sering bersyukur. Jangan pernah berpikir buruk.
Sebelum mengeluhkan kondisi yang menurut kita tidak enak ada baiknya kita cari dulu hal-hal baik yang bisa kita syukuri. Karena itulah hal-hal yang dapat membuat hidup kita lebih mudah ketika dijalani.
Ini serius.
Segitu aja deh dari aku. Kalau ada hal-hal urgent yang ingin aku share. Aku pasti share lagi.
Keep spirit and fighting!








0 komentar:
Posting Komentar