Pernah gak denger kalimat "Pikiran adalah do'a" atau "Apa yang kamu rasakan di dalam hati, itulah sebenarnya do'amu".
Kebayang gak sih, ketika kita ngeluh ingin nikah, ngeluh ingin kerja,
ngeluh ingin usaha sukses, ngeluh ingin dagangan laku, ngeluh ingin
usaha maju, kalau ngeluh ingin bayi belum kebayang sih karena belum
nikah juga. Hehe..
Nah, disaat kita mengeluhkan itu
semua, tetapi dalam pikiran kita, kita malah dirundung rasa takut.
Takut banyak hal. Kayak misal kepengen nikah, "tapi gimana ya kalau
nanti aku malah gak bisa ngurus rumah tangganya", "gimana kalau nanti
suami atau istri kita jahat sama kita", pokoknya kita tuh terus aja
berpikiran buruk. Pertanyaannya, masuk akal gak sih kalau harapan dan
semua hal yang kita keluhkan itu dapat terwujud?
Pernah gak
ketika kamu sudah merasa bahwa harapan kamu itu sudah kamu raih, kamu
sudah bisa merasakan bahwa Allaah itu Maha Mengabulkan, kamu sudah paham
bahwa setiap kesulitan pasti akan menemui kemudahan. Tapi, kamu masih
merasa kurang? Kamu masih merasa bahwa apa yang kamu dapatkan saat ini
masih jauh dari apa yang kamu harapkan. Contoh; sebelumnya kamu sangat
ingin bekerja, ketika kamu sudah mendapatkan pekerjaan. Awalnya kamu
sangat bersyukur dan menikmati semua hal yang diberikan kepada kamu dari
pekerjaan itu. Tetapi lambat laun kamu mulai lelah, dan merasa jenuh
dengan pekerjaan kamu itu. Atau bisa jadi karena upah yang kamu dapat
tidak sesuai dengan tenaga yang kamu keluarkan dalam pekerjaanmu itu.
Sehingga kamu ingin sekali berhenti dan mencari pekerjaan yang lain.
Namun di sisi lain, kamu pun sadar betul bahwa untuk mendapatkan
pekerjaan itu tidaklah mudah, kamu tahu betul bagaimana rasanya
menganggur dalam waktu yang cukup lama. Bahkan pernah merasa bahwa diri
kamu itu sampah yang tak berguna, bahkan sampah saja masih ada gunanya
jika di daur ulang, tapi kamu? Kamu itu lebih buruk dari sampah.
Bagaimana kamu bertahan dengan kondisi yang demikian? Apakah kamu akan
bertahan atau mencoba melangkah dan berpindah tempat yang mungkin kamu
rasa kamu akan menemukan banyak kemudahan dan pekerjaan yang layak. Tapi
kamu sendiri tidak yakin dengan apa yang kamu yakini itu. Lalu
bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?
Maka, menjaga perasaan
bahagia itu adalah perkara penting. Bagaimana kita bisa bahagia? Apa sih
sebenarnya yang bisa membuat kita bahagia kalau disaat kita
mengharapkan sesuatu dan ketika kita sudah mendapatkan sesuatu itu kita
masih saja belum bisa merasa bahagia. Lantas apa bahagia itu?
Bahagia itu adalah ketika kita bisa menjadi diri kita sendiri. Mengenal
baik siapa diri kita adalah kunci yang paling utama. Setelah kita tahu
betul siapa diri kita, lambat laun kita akan lebih mengenal siapa
pencipta kita. Bagaimana cara Sang Pencipta mengurus keperluan dan
kebutuhan kita secara rinci dan teliti tanpa kesalahan sedikitpun.
Bagaimana kita akan lebih mudah bahagia karena kita tahu, apa yang kita
butuhkan benar-benar telah Tuhan persiapkan dengan seksama untuk kita.
Maka, menjaga perasaan bahagia itu penting. Supaya kita tidak
terjangkit virus pikiran buruk yang menyebabkan kita mudah sekali untuk
mengeluh.
Bisa kamu bayangkan betapa mengerikannya sebuah hubungan
suami istri retak hanya karena sang istri mudah sekali terpengaruh
hal-hal yang buruk dan berpikir yang tidak-tidak hingga membuat sang
suami jengah karena sikapnya yang mungkin sudah kelewatan. Keutuhan
rumah tangga bisa-bisa runtuh hanya karena prasangka buruk.
Kalau
sudah runtuh, jelas-jelas hati kita pasti akan terasa sakit dan menerima
kekecewaan yang mendalam. Padahal, semua itu terjadi karena kelalaian
kita sendiri. Karena kita tidak pintar dan selalu saja lalai dalam
bermawas diri.
Lalu, bagaimana bisa kita mendapatkan seluruh
kenikmatan yang telah Allah persiapkan dan diberikan kepada kita jika
kita selalu saja berpikiran buruk dan tidak merasa bahagia
terus-menerus? Masihkah layak kita menerimanya dalam kondisi jiwa yang
seperti itu?
Jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Selamat bertafakur








0 komentar:
Posting Komentar