Sendiri Menyepi

Sendiri menyepi.. 
Tenggelam dalam renungan.. 
Ada apa aku, 
Seakan diriku jauh dari ketenangan..

Terlalu jauh sudah aku melangkah
Aku terbuai di dalam kenikmatan yang perlahan menjebakku ke dalam kefanaan
Aku merasa semakin hari semakin hampa
Aku merasa hancur, ambruk, seakan tak memiliki lagi pondasi yang kokoh. 
Jangankan kokoh, pondasinya pun nyaris tak ada. 

Aku lagi-lagi menyia-nyiakannya
Kembali lagi menjadi insan yang bodoh
Lagi-lagi bodoh
Tetapi masih bersyukur karena ketika hatiku merindu, keheningan dalam malam yang gulita ini masih bisa kurasakan. 
Merasa takut dan gelisah jika selama ini hanya sia-sia saja aku menggunakan nafas yang telah diberikan-Nya. 

Bumi sedang tidak dalam kondisi baik
Kehidupan ini adalah milik-Nya
Semua yang terjadi tak terlepas dari Qodo dan Qodar-Nya
Setiap hari setiap detik aku semakin memahami bahwa akhir dari semua ini adalah memang kefanaan, tiada, binasa. 
Semua akan mengalami yang namanya kematian. 

Kenapa aku selalu mengulang-ulang perasaan yang sama? 
Bukankah sebaiknya usaikan saja
Bukankah sebenarnya aku sudah tahu obatnya
Lalu mengapa aku selalu saja bersikap seperti ini?
Apakah memang aku tak pernah bisa mencapai titik ridha di dalam hidupku? 
Apakah aku tidak diridhai-Nya dalam hal kebaikan? 
Tidak mungkin, kan? 
Tetapi, kenapa? 

Memang hanya aku yang tahu
Aku tak mungkin benar selalu
Aku adalah manusia yang dirancang untuk selalu salah dan melakukan perbaikan
Kalau aku tidak pernah melakukan kesalahan mungkin aku tak akan ditakdirkan hidup sebagai manusia melainkan malaikat yang hanya patuh dan taat. 

Tetapi jika selalu saja salah dan tak melakukan perbaikan, mungkin aku sudah dikategorikan sebagai antek iblis.

Bukankah memang begitulah sunatullohnya? 
Manusia melakukan kesalahan, kerusakan, tetapi Dia selalu menantikan air mata keinsyafan para hamba-Nya yang bersalah
Dan kali ini aku merasa sangat bersalah, sangat-sangat berdosa dan aku tengah merasakan rindu yang teramat hebat. 

Rindu menangis di hamparan sajadah mengadukan segala keluh kesahku kepada-Nya
Rindu menangis di atas lembaran-lembaran kertas di saat aku menuliskan semua keluh kesahku kepada-Nya
Rindu bermunajat di malam-malam yang paling sunyi kepada-Nya
Rindu menyebut-nyebut nama-Nya disaat apapun itu kondisinya
Rindu mentadabburi setiap pesan-pesan cinta dalam surah-Nya
Rindu menjalani semua perintah sunnahnya
Rindu akan semua hal tentang-Nya
Yang kemana-mana selalu mengagungkan asma-Nya kepada orang-orang agar selalu mengingat-Nya
Rindu kepada teman-temanku yang berada di dalam komunitas keagamaan
Itu semua membuat keadaan jiwaku stabil dan kuat

Sepertinya memang seharusnya aku membangun kembali semua itu
Seharusnya setiap detik, menit, helaan nafas ini aku tak pernah boleh lepas dari mengingat-Nya
Memang seharusnya begitu
Ya

Rabbana taqobbal minna innaka anta sami'uddu'a
Rabbana laatuzig quluubana ba'daidz hadaitana wa hablana miladunka rahmah innaka antal wahaab 
Rabbana dholamna anfusana wa ilamtaghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin

Aamiin Allahumma Robbal alaamiin.. 💕

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa?

Katanya, menikah itu menyempurnakan separuh agama.

Katanya, menikah itu ibadah terpanjang.
Katanya, menikah itu ketika pasutri bersentuhan tangan dan romantika pasutri lainnya berbuah pahala.
Katanya, katanya, katanya dan katanya lagi.

Bukankah seharusnya ketika kita memilih untuk menikah, kita harus mengedepankan visi dan misi rumah tangga kita. Bukan bagaimana kondisi hati dan perasaan atau apalah itu. Iya, kan? Lalu mengapa?
Mengapa banyak sekali yang terkecoh, yang lupa, yang lalai, dan lena.
Hingga perahu itu karam, goyah, bahkan hancur tenggelam.
Bagaimanalah?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menjaga Perasaan Bahagia

Pernah gak denger kalimat "Pikiran adalah do'a" atau "Apa yang kamu rasakan di dalam hati, itulah sebenarnya do'amu".
Kebayang gak sih, ketika kita ngeluh ingin nikah, ngeluh ingin kerja, ngeluh ingin usaha sukses, ngeluh ingin dagangan laku, ngeluh ingin usaha maju, kalau ngeluh ingin bayi belum kebayang sih karena belum nikah juga. Hehe..
Nah, disaat kita mengeluhkan itu semua, tetapi dalam pikiran kita, kita malah dirundung rasa takut. Takut banyak hal. Kayak misal kepengen nikah, "tapi gimana ya kalau nanti aku malah gak bisa ngurus rumah tangganya", "gimana kalau nanti suami atau istri kita jahat sama kita", pokoknya kita tuh terus aja berpikiran buruk. Pertanyaannya, masuk akal gak sih kalau harapan dan semua hal yang kita keluhkan itu dapat terwujud?

Pernah gak ketika kamu sudah merasa bahwa harapan kamu itu sudah kamu raih, kamu sudah bisa merasakan bahwa Allaah itu Maha Mengabulkan, kamu sudah paham bahwa setiap kesulitan pasti akan menemui kemudahan. Tapi, kamu masih merasa kurang? Kamu masih merasa bahwa apa yang kamu dapatkan saat ini masih jauh dari apa yang kamu harapkan. Contoh; sebelumnya kamu sangat ingin bekerja, ketika kamu sudah mendapatkan pekerjaan. Awalnya kamu sangat bersyukur dan menikmati semua hal yang diberikan kepada kamu dari pekerjaan itu. Tetapi lambat laun kamu mulai lelah, dan merasa jenuh dengan pekerjaan kamu itu. Atau bisa jadi karena upah yang kamu dapat tidak sesuai dengan tenaga yang kamu keluarkan dalam pekerjaanmu itu. Sehingga kamu ingin sekali berhenti dan mencari pekerjaan yang lain. Namun di sisi lain, kamu pun sadar betul bahwa untuk mendapatkan pekerjaan itu tidaklah mudah, kamu tahu betul bagaimana rasanya menganggur dalam waktu yang cukup lama. Bahkan pernah merasa bahwa diri kamu itu sampah yang tak berguna, bahkan sampah saja masih ada gunanya jika di daur ulang, tapi kamu? Kamu itu lebih buruk dari sampah. Bagaimana kamu bertahan dengan kondisi yang demikian? Apakah kamu akan bertahan atau mencoba melangkah dan berpindah tempat yang mungkin kamu rasa kamu akan menemukan banyak kemudahan dan pekerjaan yang layak. Tapi kamu sendiri tidak yakin dengan apa yang kamu yakini itu. Lalu bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?

Maka, menjaga perasaan bahagia itu adalah perkara penting. Bagaimana kita bisa bahagia? Apa sih sebenarnya yang bisa membuat kita bahagia kalau disaat kita mengharapkan sesuatu dan ketika kita sudah mendapatkan sesuatu itu kita masih saja belum bisa merasa bahagia. Lantas apa bahagia itu?

Bahagia itu adalah ketika kita bisa menjadi diri kita sendiri. Mengenal baik siapa diri kita adalah kunci yang paling utama. Setelah kita tahu betul siapa diri kita, lambat laun kita akan lebih mengenal siapa pencipta kita. Bagaimana cara Sang Pencipta mengurus keperluan dan kebutuhan kita secara rinci dan teliti tanpa kesalahan sedikitpun. Bagaimana kita akan lebih mudah bahagia karena kita tahu, apa yang kita butuhkan benar-benar telah Tuhan persiapkan dengan seksama untuk kita.

Maka, menjaga perasaan bahagia itu penting. Supaya kita tidak terjangkit virus pikiran buruk yang menyebabkan kita mudah sekali untuk mengeluh.
Bisa kamu bayangkan betapa mengerikannya sebuah hubungan suami istri retak hanya karena sang istri mudah sekali terpengaruh hal-hal yang buruk dan berpikir yang tidak-tidak hingga membuat sang suami jengah karena sikapnya yang mungkin sudah kelewatan. Keutuhan rumah tangga bisa-bisa runtuh hanya karena prasangka buruk.
Kalau sudah runtuh, jelas-jelas hati kita pasti akan terasa sakit dan menerima kekecewaan yang mendalam. Padahal, semua itu terjadi karena kelalaian kita sendiri. Karena kita tidak pintar dan selalu saja lalai dalam bermawas diri.

Lalu, bagaimana bisa kita mendapatkan seluruh kenikmatan yang telah Allah persiapkan dan diberikan kepada kita jika kita selalu saja berpikiran buruk dan tidak merasa bahagia terus-menerus? Masihkah layak kita menerimanya dalam kondisi jiwa yang seperti itu?
Jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing. Selamat bertafakur


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terkabulnya Sebuah Doa


Pasti kita semua pernah deh ngalamin yang namanya depresi, kesel, kenapa harapan-harapan yang sering kita panjatkan susah banget terkabul.
Pengen dapet kerjaan, padahal kirim lamaran udah banyak dan berjelajah kemana-mana. Tapi, hasilnya masih aja nihil.
Pengen dapet jodoh, padahal kita udah perbaiki diri kita sendiri, ya setahu kita kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.
Dan masih banyak hal lainnya yang kita pinta namun masih saja sulit untuk didapatkan.
Nah di sini, aku pengen banget berbagi pikiran. Apa yang aku rasakan, apa yang aku alami dan selalu aku pikirkan sampai aku menemukan sebuah titik singgung yang saling bertautan. Cielah bahasanya.
Intinya yang pengen aku kasih tau ni ya..
Sebenarnya, الله tuh selalu mengabulkan setiap harapan-harapan kita. Mau sebanyak dan sebesar apapun permintaan itu الله pasti selalu kasih ke kita.
Hanya aja yang musti kita renungkan, sudah layakkah kita mendapatkannya? Sudah siapkah kita menerima harapan tersebut?
Nih berdasarkan pengalaman aku ya. Dulu, ya beberapa tahun ke belakang deh. Aku tu kan pengen banget ngisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Bayangin aja setiap hari kerjaannya diem mulu di rumah. Udah banyak diomongin tetangga lagi. Nikah ngga, kerja ngga. Ngapain cobba.. Meskipun sebenernya itu urusan pribadi aku, tapi tetep aja sih risih dengernya.
Padahal waktu itu aku udah kirim-kirim surat lamaran juga kan, tapi ngga tau deh kenapa gak ada yang manggil-manggil juga.
Dan setelah dipikir-pikir sekarang. Alhamdulillah sih, kalau sekarang aku udah punya kegiatan yang bermanfaat juga. Eh.. Bentar.. Lanjutin dulu yang tadi.
Nah, setelah dipikir-pikir disaat aku udah punya kerjaan kayak sekarang. Kenapa dulu aku susah banget buat dapet kerja.
Pertama, aku sendiri belum siap menerimanya. Diri aku sendiri sebenernya menolak semua itu untuk terjadi. Karena memang gak ada keinginan dari diri sendiri. Sebenernya ada, tapi nggak di bidang itu. Maksudnya ngga di tempat-tempat yang aku tujukan surat lamaran pekerjaan.
Aku sendiri orang yang introvert, dan susah untuk bersosialisasi dengan mudah. Aku juga gak bisa kalau berada di bawah tekanan. Aku paham siapa aku, jadi gak mungkin kalau aku harus kerja di tempat yang aku sendiri tau kalau aku pasti gak akan nyaman.
Hanya aja waktu itu aku coba-coba aja, demi memuaskan hati orangtuaku.
Kedua, karena memang bukan di sana jalannya. Kayaknya Allah juga tau aku gak akan mungkin bisa jalani itu. Bukan bidangnya. Bukan ahlinya. Dan pasti bakal kerepotan nantinya. Dan meskipun dipaksakan juga tetep aja gak akan bisa.
Tapi coba lihat kejadian selanjutnya. Ketika aku ada keinginan dan niat yang kuat. Tekad aku juga udah bulat dan semua keragu-raguan aku sendiri bisa aku tepiskan. Eh.. Akhirnya dapet juga kan kerjaan.
Kenapa aku bisa berada di dalam pekerjaanku sekarang?
Karena meskipun aku mengalami kesulitan setidaknya aku bakalan seneng dalam mempelajarinya.
Nggak akan mungkin bisa dipatahkan karena aku bakal menikmatinya. Allah juga tau itu.
Dan ketika harapan itu terkabulkan..
Sebenarnya Allah juga tau kalau kita bisa menerima dengan lapang semua takdir dari apa yang kita harapkan itu.
Contoh lain.
Kita pengen jadi orang kaya. Tapi kita sendiri gak memberikan bukti kongkrit kalau kita layak jadi orang kaya.
Kerjanya aja ogah-ogahan. Semua bidang dipilih-pilih dan ingin enaknya aja. Mental kita sendiri aja nggak cukup untuk menjadikan kita orang kaya.
Lalu, ketika kita sudah menjadi orang kaya. Bisa ngga kita jaga amanah sebagai orang kaya?
Bagaimana kalau kita banyak melewatkan sesuatu?
Ketika Allah ingin kita banyak berbagi. Memperhatikan urusan anak-anak yatim. Eh kita malah sibuk dengan hawa nafsu kita sendiri dan lalai dengan semua perintahnya.
Tapi, kalau kita bener-bener bisa dipercaya dan bisa membuktikan bahwa diri kita layak menjadi orang kaya. Pasti deh semua itu bakal terwujud tanpa kita duga. Jalan nya bakal muncul sendiri. Serius.
Dan kuncinya supaya terkabul apa?
Sering-sering bersyukur. Jangan pernah berpikir buruk.
Sebelum mengeluhkan kondisi yang menurut kita tidak enak ada baiknya kita cari dulu hal-hal baik yang bisa kita syukuri. Karena itulah hal-hal yang dapat membuat hidup kita lebih mudah ketika dijalani.
Ini serius.
Segitu aja deh dari aku. Kalau ada hal-hal urgent yang ingin aku share. Aku pasti share lagi.
Keep spirit and fighting!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegiana #4

Lanjutan

Mau tak mau, yakin tak yakin, Gee tetap harus mengikuti kemana sosok itu membawanya pergi. Semua sudut jalan yang Gee lihat nampak begitu gelap mencekam. Hanya sinar dari makhluk berjubah putih itulah  satu-satunya sumber cahaya yang mampu menerangi jalan Gee.
Tak lama dari itu terdengar suara cekitan yang begitu keras melengking, diikuti dengan teriakan-teriakan yang menjerit-jerit mengaduh kesakitan membuat telinga sesiapun yang mendengarnya kesakitan.
Suara-suara itu seperti suara manusia yang sedang menerima pecutan atau siksaan, atau hal yang lain sebagainya.
Rasa takut pun mulai menghantui Giana disambut dengan lengkingan suara itu yang semakin terus menguat, benar-benar menakutkan. Ingin berlari namun entah harus lari kemana.

Terhenti.
Sosok berjubah putih itu menoleh, Gee terdiam tak mengerti. Menunggu lawan bicaranya mengatakan sesuatu tentang semua ini.
"Lihat, Gee." Ia pun menunjuk ke arah utara.
"Apa yang harus kulihat? Aku tak melihat apapun selain hanya suara-suara yang sulit untuk aku jelaskan." kilah Gee.
"Lihatlah sekali lagi." Ucap sosok itu tenang.
Gee hampir putus asa dan rasanya ingin berteriak memaki. Apa yang sebenarnya makhluk itu inginkan darinya?
"Lihatlah oleh mata hatimu, Gee." katanya sekali lagi.
Gee berusaha sekuat tenaga untuk melihatnya, tapi tak ada sedikitpun sesuatu yang bisa ia lihat. Gee mulai frustrasi.
"Tadi kamu bilang ada sosok yang harus kutemui? Mana? Siapa?" Giana malah mengalihkan pembahasan.
Sosok berpakaian putih itu terdiam sejenak.
"Pejamkan matamu." Giana pun mengikuti perintah makhluk itu. Kedua bola mata Gee pun terbiar memejam, sementara sosok itu berkata-kata begitu panjang.
"Apa yang kamu lihat nanti, tolong ingatlah sesuatu yang mampu membuatmu tenang lebih dari apapun yang ada di muka bumi ini." Mendengar perkataan tersebut, Gee mengangguk pelan mengiyakan.
"Apa yang kamu lihat nanti, berjanjilah untuk mengikuti apa yang diperintahkan kepadamu." katanya lagi. Gee mengangguk lagi.
"Baiklah, buka matamu dalam hitungan ke lima."
Giana mulai menghitung.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...

Seperti sebuah jendela yang terbuka di pagi hari, begitu pula dengan mata hati yang ikut terbuka saat itu. Dan pada saat Gee membuka mata,
"AllaahuAkbar!" jerit Gee sembari menutup kedua bola matanya dengan ke-sepuluh jarinya.
"Astaghfirullah.. Apa itu? Siapa itu?" Giana masih tak ingin melihatnya. Giana benar-benar ketakutan. Jantungnya berdegup begitu cepat. Dadanya seakan terbakar begitu panas.

Lalu kedua bola mata Gee mengitari sekitarnya mencari-cari makhluk berjubah putih yang sedari tadi menemaninya, namun Gee tak juga berhasil menemukannya.
"Kemana sosok itu? Kenapa malah..."
"Jangan takut, Giana." Sosok itupun ternyata dapat berbicara.
"Makhluk apa kamu? Mengapa seperti ini?" Giana seolah jijik dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Aku senang, karena kamu benar-benar telah mengingat sesuatu yang tepat ketika melihat aku."
"Hmm? Apa maksudmu?" Giana tak mengerti.
"Kelak, kamu pun akan memahami maksudku."
"Lalu, siapa kamu?"
"Aku adalah kamu, aku adalah setiap kali kamu merasa marah dan tak menerima apapun yang telah terjadi kepadamu. Kamu berbohong. Kamu menyiksa dirimu sendiri. Kamu angkuh. Kamu picik. Kamu lalai. Kamu kurang sedekah. Kamu pelit. Kamu mudah iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Kamu mudah mengeluh. Kamu... "
"Cukup!" Gee tak ingin mendengarnya lagi.
...

Nafas Gee mulai tak beraturan. Ia terlihat begitu gelisah dan kesakitan. Radit yang melihat kondisi Giana tetiba seperti itupun terkejut seketika, Radit pun mencari-cari tombol darurat, dan ketika berhasil ditemukan ia pun bersegera menekan tombol hitam tersebut yang ternyata berada dekat dengan kepala Gee. Ia memanggil-manggil suster, agar segera datang untuk menolong Gee.
Pikiran Radit mulai resah, berkecambah tak tentu arah. Hal terburuk pun mulai mengganggu pikiran Radit.
"Rabbi.. Jangan dulu." bola matanya semakin basah. Ia tak bisa menahan rasa sedih dan cemas di dalam hatinya.
Tak lama, salah satu orang dokter ditemani oleh beberapa suster datang berhamburan, sang dokter pun mulai menekan-nekan dada Gee menggunakan alat pemacu detak jantung. Dibantu oleh suster yang ikut membersamainya. Hingga tubuh Gee pun setengah terangkat ketika diletakkan alat tersebut. Namun nafasnya masih begitu berat.
"(Hanya sebuah anggukan pelan)" dokter memberikan isyarat kepada salah seorang suster, lalu suster itupun memerintahkan Radit supaya menunggu di luar ruangan. Agar sang dokter bisa lebih fokus dalam menangani pasiennya.
Radit pun keluar dengan wajah yang merah padam, hatinya bergejolak penuh dengan kegelisahan.
"Maa sya Allaah, Gee.." Radit menangis sejadi-jadinya.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegiana #3

Lanjutan

Setelah satu jam lamanya menunggu kedatangan rombongan Erik beserta rekan-rekannya dari Balaikota, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit dengan membawa beraneka ragam buah-buahan dan kue basah. Keluarga Gee menyambut mereka begitu antusias dan sangat senang. Melihat kondisi Gee yang terbaring dengan selang infus di hidung dan tangannya membuat teman-temannya merasa prihatin. Siapa yang tahu bahwa musibah kan datang meski kita sudah berusaha menjaga diri sebaik mungkin? Siapa pula yang tahu menit kemudian tentang maut yang mungkin saja tiba.
Satu persatu dari mereka mendekati Gee dan berbicara pada Gee, mereka tak bisa menahan sedih melihat kondisi Gee yang sangat memprihatinkan ini. Mereka pun banyak mendo'akan keselamatan Gee, mendo'akan kesehatan Gee. Semoga Gee cepat pulih dan sadarkan diri. Beraktifitas seperti biasanya, ceria seperti sebelum-sebelumnya.
Anita yang melihat Gee pun merasa tak kuasa menahan pilu. Air matanya bercucuran membasahi lesung pipinya.
"Teh Gia, cepet sembuh Teh. Nita yakin Teh Gia kuat, Teh Gia bisa melalui semuanya. Semangat, Teh. Kita semua nunggu Teteh. Jangan tinggalin Nita." Ucapnya menahan sedan.
Tak ada respon apapun dari Giana, ia hanya tertiidur. Begitu tenang, pulas.
...
Gee terus mengikuti kemana sosok itu membawanya. Suasana masih berupa panorama malam dengan banyaknya cahaya berkelip dari kunang-kunang yang bertebaran di sekelilingnya.
Tak lama kemdian, Gee melihat rupanya sendiri. Namun terlihat berbeda dengan dirinya. Dihadapannya, Gee terlihat kusam, lebam, penuh luka, sangat menyedihkan. Kurus, seperti tak terurus. Sementara dirinya tidak, ia masih terlihat sehat, segar, baik-baik saja tanpa kurang sedikitpun.
Sosok itu berkata, "Lihatlah dirimu!" Menunduk sedih. Senyumnya hilang. Hanya isyarat menahan pilu.
"Kalau memang dia itu adalah aku, lantas siapa aku?" Giana bertanya penuh rasa penasaran.
"Itulah kamu yang lain! Baiklah, kan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Dihadapannya, terlihat sosok yang muram, sedih, begitu tak bahagia. "Dialah yang selalu menemanimu, di sisimu yang lain. Namun berbeda denganku, karena aku adalah catatan segala kebaikanmu. Aku selalu tersenyum sedangkan ia selalu menangis. Maka, itulah kamu. Berbeda dengan kamu yang bersamanya."
"Hah?" Gee tak mengerti. Apa maksudnya semua ini.
"Lihatlah, siapa yang tidak akan sedih melihat kondisimu seperti itu. Sangat buruk. Itulah kamu dengan segala catatan keburukanmu."
Gee menerawang mengingat-ingat sesuatu.
"Belum sampaikah kepadamu suatu berita tentang perjalanan yang begitu panjang?"
Gee terdiam. Tak banyak bicara. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Giana, rekanku selalu memohon kepadaku agar aku lebih banyak mencatat amal kebaikanmu, sungguh ia tak tega melihat kamu tersiksa terus menerus. Ia pun selalu meminta kepada Allah agar kamu diselamatkan. Agar kamu banyak-banyak mengingat Allah."
"Allah?" Gee bertanya pelan. Seperti mengingat sesuatu.
"Ya, tidakkah kau mengenali asma-Nya?"
...
Waktu jam besuk telah habis. Maka seluruh keluarga pasien yang berada di dalam ruangan harus segera meninggalkan pasien. Hanya boleh satu orang yang tinggal untuk menjaganya.
"Ma, mama pulang aja. Biar Radit yang jaga Giana. Mama harus istirahat."
"Tapi, apa gak ngerepotin?"
"Sama sekali nggak."
"Mas Radit kalau butuh bantuan telepon aku aja." Erik menambahkan. Radit mengangguk mengiyakan.
Tak lama, dokter pun datang menemui Giana dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana dok?"
"Giana harus dioperasi karena kepalanya yang terbentur cukup keras, tempurung kepalanya sedikit retak. Maka harus segera ditindak lanjuti."
"Lakukan dok. Berikan yang terbaik bagi Giana."
"Tapi kondisi Giana harus benar-benar pulih dulu, baru bisa dijalankan. Dan untuk biaya butuh sekitar tunai seratus juta rupiah."
"Innalillahi, astaghfirullah."
"Tunggu Giana sadar dari komanya, maka operasi akan kami jalankan."
Mas Radit yang mendengar kenyataan pahit itu mendadak lemas tak bergairah. Lelucon apa ini? Benaknya dipenuhi dengan rentetan keluh kesah. Menatap Gee yang tertidur lamat-lamat, tak kuasa menahan pilu. Cairan bening itu seketika turun membasahi pergelangan tangan Gee.
"Mas Radit mohon, sadarlah Gee. Kembalilah." Radit menutupi kedua tangannya, memegang erat kepalanya. Ingin sekali berteriak mengapa musibah menyakitkan ini harus menimpa gadis sebaik dan sepolos Gee.
"Yaa Allaah, betapa menyakitkannya peristiwa ini untukku. Gee, Mas Radit mohon cepatlah sadar. Bangunlah Gee, bangun" air matanya terus bercucuran.
...
Terdengar suara tangis dari seseorang.
"Siapa yang menangis?" Giana bertanya. Matanya mengitari sekitar mencari suara tangis itu.
"Itulah suara tangisan seseorang yang begitu dekat denganmu dari dunia yang lain." Jawab sosok itu.
"Mengapa ia menangis? Lalu dimana dia berada?"
"Di dunia yang lain." Jawabnya sekali lagi.
"Apakah aku sudah mati?" Kali ini Giana teringat akan kematian.
"Baiklah, ternyata kamu sudah mengingat sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku sebutkan." Ia tersenyum tipis kali ini.
"Jadi, aku sudah mati? Apakah ini yang dimaksud dengan alam barzakh?"
"Bukan. Ini hanya sekedar ilusi, mimpi."
"Hah?"
"Kamu belum mati, Giana. Kamu hanya sedang tertidur pulas."
"Lalu, dimana ragaku?"
"Di sana, di dunia yang lain."
"Kenapa aku tak bisa pergi kesana? Dan bertemu dengan seseorang yang sedang menangis itu?"
"Ikut aku! Kan kuberitahu kamu sesuatu yang lain. Masih banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."
"Kemana?"
Tanpa menjawabnya, Gee terpaksa harus mengikuti kemana sosok itu membawanya pergi.
...
Mas Radit yang sedari tadi menggenggam erat jari jemari.Gee, melihat jemari Gee bergerak yang hanya dalam hitungan detik.
"Gee?", Radit begitu tergesa menyentuh pipi Gee. "Giana? Mas Radit yakin Giana pasti dengar. Sadarlah Gee, ayo kita bikin project bareng lagi. Sembuhlah Gee, Mas Radit mohon." Ucapnya getir.
Percumalah, Gee masih tetap tertidur. Benar-benar detik yang membawa luka.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Elegiana #2

Lanjutan

Melihat Gee yang tersenyum tipis membuat mama Gee yang menemani Gee heran. Apa yang sedang Gee lakukan di sana? Bukankah dokter mengatakan bahwa Gee mengalami koma? Bagaimana bisa Gee tersenyum senang seperti itu sedangkan mamanya begitu khawatir melihat Gee begini.

Terdengar suara langkah kaki yang terburu menuju bibir pintu. Terbukalah pintu tersebut. Lalu terlihat lelaki bertubuh kurus layaknya tentara, mengenakan kemeja berwarna hitam. Memasang wajah yang begitu panik, sedih, resah, marah, kesal, sesal, semua.
"Ma, Giana kenapa sih kok bisa kayak gini?"
"Menurut saksi, kejadiannya emang sedikit aneh. Giana belum sempet nyebrang, tapi ada kecelakaan motor dan mobil dari arah kiri. Gatau kenapa motornya terpental jauh, jadi kayak yang lepas aja dari si pengendaranya. Roda depan motornya kena kaki Giana, lalu terseretlah Giana yang akhirnya terbentur mobil yang sedang melaju."
"Astaghfirullah, tapi kepalanya gak kenapa-kenapa kan ya?"
"Kepalanya terbentur cukup keras. Mengakibatkan banyak darah yang keluar. Dan Giana butuh pendonor sekarang."
"Astaghfirullah..." Mas Radit semakin dirundung cemas.
"Nak, Radit. Sama Giana masih?"
"Masih apa maksudnya?"
"Hubungan?"
"Oh, sebenernya dua hari yang lalu lagi ada sedikit masalah. Cuma salah paham aja sih sebenernya. Tapi gatau kenapa Giana tiba-tiba minta break. Katanya sih gak mau ngerepotin. Padahal saya gak ngerasa repot sama sekali."
"Mm, pantes aja dari kemarin Giana murung. Ditanya mama gak mau jawab, emang dia gak pernah banyak cerita. Cuma buku-bukunya aja yang banyak menuhin lemari."
"Iya, Giana emang sensitif dan apa-apa tu gak bisa jujur. Dia sering salah paham kalau saya bilang ini itu suka mikirnya kalau saya tu marah apa gimana. Padahal nggak sama sekali. Tapi tiap kali ditanya gimana, kenapa, atau apa yang dipengen dia selalu bilang gak apa-apa."
"Nih, hp Giana. Tadi sempet gak nyala, tapi lama-lama bisa nyala juga. Ada curhatan di sini. Coba lihat sama Radit."
Radit pun meraih ponsel milik Giana dari tangan Mama Giana. Dilihatlah layar ponsel Giana. Disana terlihat wallpapper bergambar Giana sedang memegang kucing kesayangannya.
"Dimana curhatannya?"
"Nih" ditunjukilah sebuah catatan khusus milik Giana oleh mamanya.
Tertulis begini di dalamnya;
"Maafin Gee ya Mas Radit. Gee ngerasa belum bisa jadi pasangan, partner, teman, atau segalanya yang baik-baik buat Mas Radit. Mas Radit baik sama Gee. Tapi Gee yang seringkali gak baik sama Mas Radit. Gee sering bikin Mas Radit kesel, pusing sama kelakuan Gee yang kayak gini. Mas Radit, kalau emang kita berjodoh. Allah pasti satukan kita ya? Gee gak mau bikin emosi Mas Radit terkuras hanya karena Gee. Gee ngerepotin banget ya, Mas Radit? Maafin Gee, ya. Gee gak mau lama-lama jauh, Gee pengen banget jadi partner terbaik buat Mas Radit. Tapi Gee emang harus banyak tafakur diri lagi. Gee emang masih kayak anak kecil ya. Nyebelin. Yang perlu Mas Radit tau, meskipun Gee minta break. Mas Radit gak akan pernah bisa terganti. Kecuali Allah yang memaksa. Terpaksa, Gee harus. Giana sayang, Mas."

Radit menunduk. Merenung. Banyak berpikir. Menyesal kenapa kondisi Giana saat ini harus terbaring tak sadarkan diri. Menanti detik-detik rahmat dari Allah, berharap Giana tersadar dari tidur lelapnya. Banyak sekali yang ingin Radit ungkapkan.
...
Selesai sudah acara seminar kepenulisan yang dilaksanakan di Balai Kota Bandung tersebut selama kurang lebih dua jam. Acaranya alhamdulillah berjalan dengan baik berkat rahmat Tuhan. Kabar lainnya, ada beberapa peserta yang berniat untuk ikut menjenguk Giana ke rumah sakit bersama dengan Laras, Erik dan Septi sore harinya.
"Teh Laras, gimana kabar terbaru dari Teh Gia?" Tanya Anita, seorang remaja yang berusia belasan tahun, dengar-dengar Anita ini memang dekat dengan Gee meskipun hanya dari media sosial.
"Loh, Nita kenal sama Giana?" Sahut Laras mendelik penuh kejut.
"Iya, Teh Gia udah kayak kakak buat aku. Teh Gia sering jadi motivator aku, Teh." Jawab Anita antusias.
"Hoo, iya. Giana emang humble orangnya. Dia seneng dengerin cerita siapa aja, seneng kasih motivasi sama orang lain. Tapi dia sendiri tertutup orangnya." Timbal.Laras sedikit mengungkapkan kebenaran tentang Giana.
"Teh Gia sering ceritain tentang dia dan sedikit kehidupannya buat kasih gambaran ke aku, kalau yang mengalami kejadian menyakitkan dalam hidup bukan cuma aku aja, tapi dia juga. Gitu, Teh."
"Iya, Gia memang seperti itu. O iya, tadi nanyain.kabar Gia ya. Gia belum sadarkan diri sekarang. Tadi Mas Radit baru ngabarin."
"Kasihan Teh Gia. Padahal dia orangnya baik."
"Gak ada yang salah sama takdir. Allah tahu yang terbaik. Dan segalanya paeti mengandung hikmah." Laras tersenyum penuh arti.
...
"Oh, jadi kalian lagi jalan ke sini? Berapa orang yang ikut?" Tanya Mas Radit melalui ponsel.
"Cuma 8 orang lah total."
"Septi, ikut?"
"Iya, dia ikut juga."
"Oke, saya tunggu kehadirannya."


Tak lama kemudian Giana terlihat sedang menangis ketika Mas Radit kembali menemuinya setelah selesai berbicara dengan Erik melalui telfon. Mas Radit pun mendekat ke telinga Giana, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Gee, ni Mas Radit. Cepet sembuh, Mas kangen pengen becandain kamu. Mas ada di sini, cepatlah bangun. Jangan lama-lama tidur." Berhenti sejenak. "Giana harus kuat, harus semangat buat jalani hari ke depannya." Lanjutnya.
...
Gee melangkah mendekat kepada cahaya yang semakin benderang itu. Setelah semakin dekat, terdengarlah suara tangis yang saling berlomba mengaduh menjerit-jerit. Entah dimana semua orang itu berada, yang terlihat hanyalah seakan mentari yang jaraknya begitu dekat. Panas, menyala-nyala. Jika saja Gee melangkah lebih dekat lagi, Gee akan terbakar hidup-hidup hanya karena melihat sinarnya saja, saking panasnya.


Cahaya apa itu?
Mengapa menyengat sekali?


Selang beberapa detik, Gee seakan melihat cuplikan layar lebar. Melihat beberapa rekannya saling seret menyeret, yang satu ingin ke kanan, yang satu lagi menyeret ingin ke kiri. Keduanya menangis menjerit-jerit. Mengadu pilu.


Apa itu? Mengapa seperti itu? Aku dimana? Lalu apa semua ini? Tempat apa ini? Aku tak mengingat apapun.
Apa yang terjadi?


Gee semakin bingung.
Cuplikan itu secara otomatis berubah, kali ini Gee melihat banyaknya sekumpulan semut berjalan mengitarinya. Seakan-akan ikut merasakan. Gee melihat ke sekililingnya, tak ada satupun semut-semut itu.
Semakin dekat jarak mereka dengan Gee, semakin jelaslah bahwa semut-semut itu begitu gaduh berkata-kata. Namun apa yang dikatakannya? Rasa penasaran menggumpal dalam benak Gee.
Cuplikan itu berubah lagi, kali ini Gee serasa ikut masuk ke dalam cuplikannya. Suasana berubah, entah dimana. Yang terlihat hanya kunang-kunang yang beterbangan di malam hari. Tak ada pelangi, tak ada melodi, tak ada gerimis. Semua hening, senyap, sepi, menyendiri.
Tetiba saja ada sosok mengenakan pakaian serba putih. Ia mendekat selangkah demi selangkah berjalan menuju Gee.
Gee melirik tajam penuh kewaspadaan.
Sesampainya sosok itu, ia tersenyum penuh makna. Gee tak mengerti.
"Elegiana Naura Zahra" sosok itu menyebut nama lengkap Giana.
"Siapa?" Giana bertanya gugup.
"Tak perlu takut, akulah yang senantiasa mendampingimu kemanapun kamu pergi."
"Aku tak ingat, aku tak mengenalmu."
Sosok itu tersenyum lagi begitu teduh.
"Masih banyak hal yang ingin kuperlihatkan kepadamu, Elegiana."
"Seperti tadi?"
Sosok itu mengangguk pelan tanpa hilangkan senyum pada wajahnya.
"Kau ingat sesuatu mengenai sebab mengapa kamu berada di sini?"
Kali ini Gee menggeleng tak tahu apapun. Gee sama sekali tak mengingat semuanya.
"Ikutlah bersamaku, akan kuperkenalkan kepada sosok selainku."
Gee tanpa ragu mengikuti kemana sosok itu membawanya.
...
Gee masih tak sadarkan diri. Tetapi air matanya berhenti menetes. Mas Radit menggenggam jari jemari Gee. Berharap Gee dapat merasakan sentuhan darinya.
Entah mengapa waktu seakan berjalan begitu lambat ketika berada di dalam kondisi menyakitkan begini.

Bersambung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS